Oleh Sunardi 70_Lintang | Editor Gusjaw Soelarto 70_87
Pengantar Redaksi: Tulisan ini merupakan catatan sejarah seorang “almamater 70″ Pedagang Es Kelapa & Minuman Kemasan “Kedai Sugesty” di Kantin Sekolah 70. Siap-siap saja, rahasia kelakuan anak-anak 70 mulai angkatan “Legiun 70_93” dan gank selanjutnya, akan dibongkar Nardi Lumutsky. Catatan sejarah ini, akan diturunkan sepekan sekali di rubrik “Cerita Anak 70”.
***

PERKENALKAN nama gue Sunardi. Tapi Anak-anak 70 memanggil gue dengan “nama artis” yang tangas nerek; Nardi Lumut alias Lumutsky@gmail.com. Tapi email gue ini sekarang udah diganti, hehehe…
Gue menginjakkan kaki di SMA Negeri 70 sekitar 1993. Waktu itu, angkatan kelas tiga-nya bernama Legiun 70_93. Jumlah siswa kelas tiga-nya sebanyak 20 Kelas.
Menurut gue, sebagai “anak baru” di angkatan Legiun 70_93, anak-anaknya sangat strong gays! Pasalnya, dengan satu angkatan sebanyak itu, anak SMA manapun, nggak bakal berani lewat depan SMA70. Saking banyaknya…
Ada beberapa nama kana Legiun yang masih gue inget, antara lain Sidik, Liong, John, Feri, Taufik, Dirta, Panata, Bernard, Adit, Agus sutioyono, Dani, dan Dhini Muliari. Maaf bro… kalo ada yang kelupaan…
Oh ya, jangan salah faham … Gue masuk 70 bukan lantaran mau belajar menuntut ilmu di salah satu sekolah favorit di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini. Tetapi, karena gue terpaksa harus meneruskan usaha orangtua yang dagang di Kantin Sekolah 70. Bokap gue, dikenal anak 70 dengan julukan “Pak Jampang”.
Pak Jampang adalah sosok pedagang minuman, yang tergolong “senior” di 70. Kalo boleh cerita, “pengabdian” Pak Jampang sangat luar biasa, bersama anak-anak 70.
Bayangkan –di era Anak-anak 70 masih suka “wajib militer” alias tawuran antara pelajar–, dalam sebuah peristiwa “tawuran besar” sekitar tahun 1986, satu gerobak minuman punya bokap gue ludes, des…!
Padahal isi dagangan di gerobak itu ada sekitar 20 Krat minuman —Teh Botol, Cocacola, Fanta, Sprite, dll.— sampe nggak ada sisanya sama sekali. Yang tersisa cuma gerobaknya doang… Sedih & tragis nggak tuuuhhh…!
Setelah peristiwa mengenaskan itu — yang saat itu SMA 70 dipimpin sosok kepala sekolah baru yang sangat cool yaitu Bapak Joelioes Joesoef–, sangat baik hati. Karena melihat kondisi gerobak Pak Jampang yang sudah kosong melompong, akhirnya bokap gue “ditarik” ke dalam Kantin Sekolah.

Itulah kisah awalnya, Bang Jampang bisa berjualan resmi di Kantin 70 dengan nama Kedai Sugesty. Setelah bisa berjualan dengan nyaman tanpa gangguan apapun, bokap gue memilih pensiun untuk pulang kampung. Yang akhirnya, Kakak Sepupu gue Mas Joko, yang menggantikan Pak Jampang, berjualan Es Kelapa.
Mas Joko ini menempati posisi kantin jatah Bang Jampang. Selain berdagang Es Kelapa, juga menjual minuman segar lainnya. Mas Joko berjualan hingga delapan angkatan Anak 70: Military-Thunder, GAB, Abor, Basis, Laskar, Sparatis, Sandinista, Legiun, dan Rezim.
Selepas Mas Joko “pensiun dini” untuk alih profesi bekerja di kampung, akhirnya gue-lah yang meneruskan usaha “warisan keluarga” itu.
Catatan selanjutnya, akan Lumutsky ceritakan tentang suka-duka berdagang di Kantin 70, sembari “bergaul” bersama angkatan anak-anak Legiun, Ekstrimis, Agresor, Platoon, Garnizoon, Trabalista, Somoza, dll.
Sebagai alumnus “Hujut Hulup Lintas Angkatan”, eug punya catatan “buku tahunan” sendiri tentang kelakuan dan tingkah polah berbagai angkatan SMA 70 Bulungan, yang sangat memberi warna bagi sejarah hidup gue. Karena gue, meski “belajar ekonomi di Kantin Sekolah”, tetapi jiwa gue udah terlanjur cinta sama Almamater SMA 70: SAYA… GAYA… JAYA…!!!

***
