BERSIAP DIRI MENUJU “LORONG WAKTU RAMADHAN 2021”

Renungan Gusjaw Soelarto GAB 70_87 | Pemred alumnisma70.com

MOMENTUM datangnya Bulan Suci Ramadhan semakin dekat. Tak lebih dari 65 hari atau sekitar dua bulan lagi.

Kebanyakan kaum awam, mungkin saat ini menganggap belum saatnya kita membicarakan atau mengkondisikan kedatangan “Tamu Agung Bulan Puasa” tersebut. Apalagi, di tengah munculnya pandemik Covid-19, yang masih “menghantui” hampir seluruh masyarakat Tanah Air.

Lantas, apakah dengan datangnya wabah yang melanda hampir seluruh jagad bumi ini, kita seolah boleh melalaikan persiapan menghadapi “Lorong Waktu Ramadhan” yang sakral itu?

Tentu saja tidak!

Pasalnya, bukankah Rasulullah Muhammad saw. telah mencontohkan, beliau telah melakukan persiapan menghadapi “Bulan Mulia” itu, sejak enam bulan sebelumnya?

Namun, terlepas dari adanya contoh Rasulullah tersebut, agaknya secara teknis memang kita sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Baik secara fisik, mental, maupun keimanan, yang harus benar-benar kita persiapkan. Misalnya dalam persiapan fisik, tentu puasa sunnah Senin-Kamis merupakan sebuah threatmen yang paling mudah dan simple yang dapat dilakukan seorang muslim.

Secara mentalpun demikian. Misalnya, di tengah menghadapi wabah pandemik Covid-19 ini, dapat kita jadikan ajang latihan dalam menghadapi ujian Allah ini dengan kesabaran.

Juga sebagai ajang latihan menahan hawa dan nafsu, untuk tidak bepergian ke ruang-ruang publik, hanya sekadar “nongkrong” di mal, café, maupun kawasan wisata terbuka.

Namun ternyata, ada hal yang tak kalah penting untuk kita kondisikan sebelum datangnya Bulan Suci tersebut. Sambil kita pun terus bermunajat, insyaa Allah kita dapat diperjumpakan kembali dengan bulan yang “meneduhkan” itu.

Hal yang amat penting itu adalah, sejauh mana kita telah memahami, sejatinya untuk apa bulan Ramadhan itu Allah ciptakan bagi “orang-orang yang beriman”?

Sebagaimana telah Allah tegaskan dalam Surah Al Baqarah [2] -153: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”

***

RENUNGAN ini, tidak ingin mengulangi banyak ulasan dari sisi tafsir atau bahkan tadabbur –menyelami makna terdalam—dari makna Firman Allah tersebut. Melainkan, hanya ingin menyoroti pada momentum sejarah dari turunnya “Surah Madaniyah” tersebut.

Dengan telah disebutkan sebagai “Surah Madaniyah”, tentu kita langsung faham, bahwa surah ini telah diwahyukan Allah kepada Rasulullah Muhammad saw, setelah beliau berhijrah ke Madinah.

Pertanyaannya kemudian, di tahun keberapa Hijriyah kah, syariat Berpuasa di Bulan Ramadhan itu diturunkan?

Banyak shirah –catatan kisah bejarah— yang mengungkapkan, kewajiban berpuasa di bulan “Pembakaran Segala Dosa” tersebut, diturunkan di tahun kedua Hijriyah. Atau  dua tahun setelah Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah.

Kitab-kitab sejarah telah mencatat, bahwa Rasulullah telah berdakwah selama 13 tahun di Mekah, hingga akhirnya terpaksa berhijrah ke Madinah. Maka dapat kita simpulkan, perintah syariat Shaum (puasa) di bulan Ramadhan itu, diturunkan setelah 15 tahun ke-Nabi-an seorang Al Amin bernama Muhammad bin Abdul Muthalib.

Lantas pertanyaannya; 15 tahun sebelum bulan Ramadhan disyariatkan sebagai “Bulan Puasa”, bulan suci itu pernah dijadikan sebagai bulan apa?

Maksudnya, “rutinitas ibadah” apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan para Sahabat, sebelum hijrah ke Madinah?

Berangkat dari fakta sejarah bahwa Wahyu Pertama telah Allah turunkan pada 17 Ramadhan di Gua Hira, maka tak salah jika banyak ulama masyhur, yang menyebutkan bahwa Ramadhan diidentikan sebagai “Bulan Qur’an”.

Dimana banyak shirah pula yang mengungkapkan, di “Bulan Qur’an” itulah, Rasulullah dan para Sahabat, telah memfokuskan diri untuk “menghafal”, “mencatat”, “mempelajari”, “mentadabburi”, bahkan “mengintalasi diri” dengan ayat-ayat Al Qur’an.

Ada pula yang menjelaskan, selama 30 hari penuh di bulan Ramadhan itu , para sahabat yang biasanya selalu sibuk mencatat hadits-hadits yang Rasulullah sampaikan, namun ketika memasuki Ramadhan, semua kegiatan itu diistirahatkan.

Tak lain tujuannya, agar sejumlah Sahabat bisa fokus untuk “menghafal” ayat demi ayat Al Qur’an. Juga ada yang hanya mencatat Wahyu Allah yang telah dihafal Rasulullah. Hingga “mempelajari”, “mentadabburi”, sekaligus  “menginternalisasi” Wahyu Allah, yang telah diturunkan melalui perantaraan malaikat Jibriel pada saat itu.

***

KONGKLUSI dari renungan ini; jika pada 15 tahun sebelumnya, Ramadhan adalah telah dijadikan sebagai “Bulan Al Qur’an”, maka alangkah indahnya, jika menjelang Ramadhan 1442 H (2021 M) ini, kita sudah memulai untuk meningkatkan “keakraban” diri kita dengan Kitab Suci Al Qur’an.

Agar di saat kita mulai memaksimalkan ibadah di dalam “Lorong Waktu Ramadhan” tersebut, jiwa dan bathin kita telah siap untuk menerima cahaya hikmah Al Qur’an.

Dimana penyucian jiwa dan bathin kita, akan semakin bersih dari berbagai kepentingan keduniaan, lewat syariat menahan lapar dan haus, sejak terbit hingga terbenamnya Matahari.

Disaat kepentingan paling “rendah” dari urusan kebutuhan fisik keduniaan manusia ini, telah mampu “dijinakkan” dan “dikendalikan” oleh kewajiban berpuasa tadi, maka  pada momentum inilah, proses “internalisasi” ruh Al Qur’an, akan jernih “terinstal” dengan sempurna.

Baik hanya sekadar lewat praktek bertadarus Al Qur’an, mengkhatamkan Al Qur’an, menghafalkan Al Qur’an, mengkaji tafsir, hingga lewat metode tadabbur Al Qur’an.

Yang insyaa Allah, kelak di penghujung  Ramadhan, sebuah “puncak kenikmatan beribadah” dapat kita nikmati secara maksimal, berbarengangan dengan datangnya Hari Raya Iedul Fitri, 1 Syawal 1442 H.   

Insyaa Allah…

***