‘The Story of I-16 70_92’: Inilah Kelas yang Pernah Membuat Almarhumah Bu Diastuti Menangis!

Penyesalan Memang Selalu Datang Terakhir

Laporan Dian Kartika 70_92 | Editor Gusjaw Soelarto 70_87

KABAR “kepergian” almarhumah Ibu Diastuti, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMA 70 untuk selamanya, ternyata telah membangkitkan sebuah kenangan yang mengharukan.

Ya…Kenangan mendalam atas peristiwa “kenakalan sebuah kelas”, yang kini berbuah “penyesalan berbalut senyuman”.

Inilah kisah sebuah kelas di tahun 1990, yang seluruh muridnya pernah membuat “Bu Guru murah senyum” itu MENANGIS…!

Ketika alumnisma70.com menurunkan berita wafatnya Ibu Budiati, pada Selasa, 19 Januari 2021, sebuah pesan singkat “singgah” ke Whatsapp redaksi.

Dian Kartika 70_92, pengirim pesan itu menyampaikan, “saya share link beritanya ke grup ex. 1-16 70_92 ya… Sebab kelas kami, yang pernah bikin almarhumah Bu Diastuti menangis, sekaligus bikin almarhumah juga tertawa …!? 🥺🥺🥺.”

Justru, pesan ini malah membuat redaksi, seperti mendapat sebuah fakta baru yang “mahal dan original”.

Inilah kisah “dramatik” yang disampaikan Dian, yang berhasil digali lebih dalam tim redaksi alumnisma70.com:

Suatu hari di tahun 1990. Kelas I-16 sedang mendapat pengajaran materi Bimbingan Konseling dari Bu Guru Diastuti.

Pelajaran yang bukan termasuk “mata pelajaran wajib” ini, rupanya telah “dianggap remeh” oleh murid-murid kelas yang dibimbing Wali Kelas Bu Yusmiati, Guru PKK.  

WALI KELAS I-16: Ibu Yusmiati, Guru PKK

Saat Bu Diastuti mengajar di depan kelas dengan serius, seisi kelas malah tak ada yang fokus menyimak pelajaran. Malah asyik dengan aktivitasnya masing-masing.

Beliau pun, kemudian panjang lebar menasehati mereka dengan pertuah-petuah yang memotivasi..

Namun anak Kelas I-16 70_92 ini, tetap saja cuek dengan obrolan dan kesibukannya di belakang mejanya sendiri-sendiri. Akhirnya, kesabaran Bu Budiati –yang sejatinya baik hati itu pun–, seolah habis terkuras.

Tak tahan melihat kelakuan anak muridnya yang masih tergolong sebagai “entitas baru” namun “bengal”  ini, akhirnya tangis Bu Diastuti pun “pecah” juga.

Sebagai guru konseling, ia memang bukan tipe “guru killer”, yang mudah marah atau tempra mental. Yang membuat ekspresi emosionalnya, menyeruak dalam bentuk tangisan.

Dan tangis Ibu Guru –yang memang lembut hati ini–, tak terekspresikan dalam isak tangis atau raungan di depan kelas.

Tetapi justru tertumpah, lewat lelehan air mata yang “merembes” dari sudut  kelopak matanya yang bersahaja itu. Yang mencerminkan, ada kekecewaan yang mendalam dalam hatinya.

Pasalnya, seperti ada semacam “pelecehan berjamaah” yang dilakukan secara sengaja di kelas itu. Namun, untuk menutupi tangisnya tersebut, Bu Diastuti sebagai guru konseling yang “professional”, tetap memberi nasehat-nasehat bijaknya.     

I-16 70_92: Angkatan terakhir yang masih merasakan “gedung bersejarah” SMA 70

Tetapi lag-lagi, anak-anak I-16 70_92 tetap cuek! Hingga tak lama kemudian, terdengar deru pesawat terbang yang melintas di atas gedung SMA 70 yang baru dan lama yang masih tersisa.

Saat itu, gedung baru di sisi Utara, sedang dalam proses penyelesaian pembangunannya berlantai 3. Sementara Gedung lama di sisi Selatan –bangunan yang mepet GOR Bulungan dan bangunan tengah–, yang masih dipakai untuk ruang belajar.

Seperti biasa, kebiasaan “konyol” murid kelas yang berada bersebelahan denga GOR Bulungan itu, selalu “heboh”, jika mendengar suara pesawat melintas di atas gedung.

Mereka, selalu saling dulu-duluan menepuk pundak teman yang duduk di sebelahnya. Yang berhasil menepuk pundak rekannya terlebih dauhulu, langsung mengacungkan jempolnya ke atas. Tanda “tap”, yang tak boleh dibalas temannya yang kalah cepat menepuk pundak itu.

Pak.. Puk.. Bag… Bug…! Tap… Horeee…!!!

Prok, prok, prok, prok, prok … !!! Tepuk tangan dan sorak sorai kegirangan pun membahana di seluruh ruang kelas I-16 70_92.

Maka tak ayal lagi, kegaduhan pun terjadi layaknya keriuhan acara anak-anak di sekolah Taman Kanak-Kanak atau Kelas I SD.

Melihat kelakuan “minus” anak muridnya yang sudah dewasa namun childys itu, malah membuat Bu Diastuti tak bisa menahan gelak tawanya…

Walaupun rembesan air mata, tetap tak bisa dibendungnya… 🤣🤣🤣

KAOS KELAS: Inilah kaos kelas kebanggaan mereka. Yang selalu bersaing dengan Kelas I-7

***

ITULAH suasana yang sulit dilupakan oleh anak-anak 1-16 di tahun 1990, yang saat mereka duduk di kelas III, dikenal dengan angkatan “Sandinista 70_92”.

Yang  saat ini, jadi “merasa bersalah” saat mendapat kabar tentang meninggalnya Ibu Budiati belum lama ini.

Di sisi lain, mereka pun jadi semakin kagum dengan sosok guru konseling seperti almarhumah itu.

Lantaran, mereka juga baru menyadari bahwa setelah peritiwa yang konyol, menyedihkan, namun kocak itu, Bu Diastuti tak menyampaikan peristiwanya ke Wali Kelas I-16 mereka. Bahwa mereka pernah membuat Bu Diastuti menangis di kelasnya.

Artinya, Bu Diastuti memang figur pengajar yang sangat bijak dalam mendidik anak-anak muridnya. Dengan tidak melaporkan “kelakuan minus” tersebut kepada Wali Kelasnya.

Yang sangat mungkin, saat itu bisa membuat seluruh murid Kelas I-16 kena “semprot” Ibu Yusmiati.

Penyesalan anak I-16 ini, terungkap dari pernyataan  Ulun Antugia 70_92 di WA Grup mereka: “Nyeselnya gue, nggak sempet minta maaf langsung kepada almarhumah Bu Diastuti 😢”

MENYESAL: Kini mereka merasa menyesal, atas kelakuan “bengal” mereka terhadap almarhumah Bu Diastuti.

Sementara Ra Dewi Chan 70_92, justru merasa mendapat “teguran”, lanataran belakangan ini, ia kerap membaca berita duka cita dari alumnisma70.com.

“Akhir-akhir ini, makin sering aja baca berita, baik mantan guru dan teman alumni yang meninggal. Kok jadi semakin merinding, kalau teringat, bahwa bisa jadi hanya dalam hitungan detik, menit, atau jam, gue yang jadi obyek berita duka cita itu,” tuturnya, yang akrab disapa Wican.

Yang pesan itu, ditimpali Eko Listyowati 70­­_92 dengan kalimat bijak. “Kita sama-sama saling memaafkan Wican. Usia dan takdir kita, memang tidak ada yang tahu,” ujarnya.

Karenanya, Eko mengajak rekan-rekannya sesama ex I-16, untuk sama-sama memperbaiki diri. “Mari kita sama-sama memperbaiki akhlak. Untuk persiapan takdir kita, ketika ia datang menjemput. Semoga kita dalam keadaan husnul khotimah… Aamiin ya Rabb 🤲🏻❤️,” ajaknya.

Dwican pun kembali menimpali, ”Aamiin ya Rabbal alamiin… Mentemen gue minta maaf ya, baik dulu maupun sekarang. Jika ada kata-kata gue yang sudah nyakitin hati orang. Semoga kita semua selalau diberkahi, diberi kesehatan dan selalu bisa mjaga silaturahmi juga. Aamiin ya Rabbal alamiin.”

“Gue juga minta maaf atas kelakuan gue, dulu sampai sekarang,” tanggap Ulun Antugia.

“Sedih ah Wi…” sambut Dian Marapita alias Pithonk 70_92 menyudahi pembicaraan.

***

Foto Dok Pribadi Dian Kartika 70_92