#FilsafatTokaiAyam
Merindulah Pada Kematian
Oleh Gusjaw Soelarto | Pemred alumnisma70.com

WAKTU: mencatat sejarah hidup siapa pun yang bernyawa
SEBUAH catatan atas peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182, “mendarat” ke akun WA pribadi penulis.
Dikirim dari seorang ibu muda, yang baru saja ditinggal wafat suaminya dalam tugas mulia. Sebagai seorang Kapten Kapal Laut yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu, 25 November 2020, di atas kapal yang dinakhodainya.
Ia adalah Renidian Aida, janda almarhum Kapt. Hendro Prabowo, alumnus 70_92. Sang suami tercinta, dimakamkan tepat di hari jadi sembilan tahun usia pernikahan mereka.
Cukup haru memang membacanya. Sebuah peristiwa kecelakaan pesawat udara yang telah menewaskan seluruh penumpangnya, yang kemudian “disikapi” & “dimaknai” dengan bijak dan matang oleh seorang istri almarhum “pilot “ kapal laut itu.
Ini catatan Reni –begitu sapaan singkatnya–, yang cukup “menghujam” bersandar di meja redaksialumnisma70.com:

AHAD siang, 9 Januari 2021. Satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Soekarno Hatta. Petugas check in pun menyambut mereka dengan senyum.
Para penumpang pun gembira. Tanpa curiga bahwa ajal sedang menantinya. Bahwa itulah, detik-detik terakhir keberadaan mereka di dunia.
Demikianlah sekitar 56 penumpang mendekati takdirnya. Ada seorang nenek, ibu, ayah, pemuda, bahkan anak bayi.
Mereka di takdirkan dalam satu tujuan, satu tempat, satu waktu, tanpa dibedakan ajalnya.
Tak ada yang tertukar. Tak maju dan tak mundur, walau sesaat, bahkan sedetikpun. Allah menyeleksi dengan perhitungan yang sangat tepat.
Proses pembelian tiket, check in, terbang, dan sampai akhir perjalanan. Hanya sebuah proses jalan untuk “pulang”, menjumpai takdir yang tertulis di Lauh Mahfudz. Sebuah catatan yang tak pernah kita lihat, tapi nyata kita jumpai.
Lalu kapan giliran kita pergi? Tentu hanya Allah yang tahu…
Yang pasti hendaknya kita senantiasa dalam taqwa dan mempersiapkan bekalnya. Karena kepergian kita bisa-tiba setiap saat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun.
Semoga hal ini menjadi renungan kita semua.
Turut berdukacita atas musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak.
Semoga semua saudara kita yang menjadi korban, mendapat ampunan dan tempat terbaik disisi Allah ‘azza wa jalla. Serta para keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta keikhlasan, yang berganjar pahala dalam menghadapi ujian ini. Amiin Allahuma aamiin…
***

ADA tiga peristiwa penting yang baru saja kita lalui di perlintasan waktu, beranjak dari tahun 2020 untuk menapaki tahun baru 2021.
Pertama, redaksi alumnisma70.com mencatat sedikitnya ada 20 rekan kita di almamater SMA 70 yang telah “mendahului” sepanjang tahun 2020. Mulai dari mantan Kepala Sekolah, orangtua alumnus, dan alumnus itu sendiri.
Kedua, momentum pergantian tahun 2020-2021. Yang ditandai dengan turunnya hujan deras mengguyur ibu Kota Jakarta, selepas maghrib.
Ketiga, peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan laut Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Selepas tinggal landas sekitar 14:30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, hendak menuju Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
Peristiwa mengejutkan di awal tahun –tepatnya pada Minggu, 9 Januari 2021 ini–, telah menelan korban jiwa seluruh penumpang dan awak kabinnya, berjumlah 56 orang.
Tentu banyak hikmah dibalik ketiga peristiwa tersebut. Yang kesemua momentum itu, sangat berkaitan erat dengan sebuah “hitungan waktu” atau masa/waktu.
Dimana, jika berkaitan “akhir” hitungan waktu atau ajal –seperti tercermin pada peristiwa pertama dan ketiga–, maka di situlah usia seorang anak manusia telah berakhir. Sesuai ketetapan absolut Sang Maha Pencipta.
Dan “hitungan waktu” –entah detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, windu, abad, dan seterusnya–, jika dikaitkan dengan eksistensi keberadaan seorang anak manusia di muka bumi, maka penamaannya disebut “usia” atau “umur“.
Nah, disinilah inti permasalahan yang akan “dikupas tuntas” dalam tulisan Kolom #FilasatTokaiAyam ini. Yang ingin penulis pertanyakan sekaligus diuraikan, apa perbedaan dari makna kedua kata tersebut.
Yang seolah-olah, di antara keduanya, sama dan sebangun dalam pemaknaanya; bak “setali tiga uang”. Namun sejatinya, jika ingin “ditadabburi” atau “diselami makna terdalamnya”, maka kedua kata tersebut memiliki perbedaan yang cukup mendasar.
Pada umumnya –seperti kebanyakan masyarakat awam, bahkan terpelajar–, memandang “tak penting” untuk memperdebatkan perbedaan makna antara kata “usia” dan “umur” ini. Seakan-akan tak ada guna dan manfaatnya.
Biarlah pendapat itu ada. Dan tak penting pula untuk membantah atau mendebatnya. Yang lebih penting, justru kita siapkan energi dan pikiran untuk menjelaskan secara terbuka, dimana letak perbedaan makna keduanya.
Secara singkat, rekan Yekti Handayani 70_85,pernah berkomentar di Facebook Group Alumni SMA 70 Jakarta. Saat penulis mengajukan pertanyaan tentang “apa perbedaan antara usia dan umur”.
Alumnus yang akrab di sapa Anik ini menulis, antara “Usia x Umur nyaris sama. Misalnya, jika ada yang bertanya: umurnya berapa? Atau usianya berapa?”
Anik menjelaskan, bahwa “pertanyaan menggunakan kata ‘usia’, tampak lebih etis, daripada dengan kata ‘umur’”.
Namun, katanya lagi, kalau ditinjau dari segi makna, kedua kata ini berbeda kandungan makna: Umur bermakna “sisa waktu hidup (orientasinya ke depan)”.
Sedangkan “Usia” bermakna, “waktu hidup yang telah ditempuh semenjak lahir (orientasinya berlaku surut)”.
Agaknya, Anik mengutip pendapat seorang “Bloger” Peter Jeandrie –mudah-mudahan dugaan penulis tidak salah. Jika salah, maaf ya Mbak Anik, hehehe...
Yang pernah menyebutkan, memang kerap terjadi kekeliuran dalam menempatkan diksi “Usia” dan “Umur”. Misalnya saat menajukan pertanyaan:
“Kamu umur berapa sekarang?”
“Umur berapa kamu lulus SMA-nya?”
“Aku lulus SMA umur 17 tahun”
dan sebagainya…
Diksi “umur”, menurut Jeandrie, dalam kalimat tanya dan kalimat pernyataan seperti di atas adalah SALAH!
Lantaran, jelasnya, makna “umur” dengan “usia”, merupakan kata yang memiliki makna berbeda. “Titik kontras perbedaan makna kedua kata tersebut adalah, “umur” bermakna “sisa waktu hidup”, sedangkan “usia” bermakna “waktu hidup yang telah ditempuh semenjak lahir”.
Jeandrie langsung memberi contoh sebuah kalimat dengan penggunaan kata “umur” yang benar.
“Salah satu bentuk kalimat yang benar dalam penggunaan diksi ‘umur’, bisa kita amati pada lirik lagu ‘Selamat Ulang Tahun’; panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia…”
Penggunaan diksi “umur” pada lirik tersebut sudah tepat, katanya. “Karena memberikan pernyataan harapan, bahwa sisa waktu hidup (umur) yang sedang berulang tahun, agar lebih panjang atau lama.
Jeandrie menambahkan, apabila kita menanyakan umur seseorang, maka makna sebenarnya dari kalimat tanya itu adalah “suatu yang kurang atau tidak sopan”. Karena dalam artian kasar, sebenarnya kita sedang menanyakan “berapa sisa waktu hidup kamu?” atau “kamu kapan mati?!”
Jeandrie kemudian memaparkan lebih “dalam” lagi. Dengan mengambil contoh pengertian dalam bahasa Inggeris, yang memperjelas makna kata “usia”dan “umur”.
Dalam bahasa Inggeris pun, paparnya, terdapat dua kata serupa, yakni “age” dan “life”. “Umur” disepadankan dengan kata “life”, sedangkan “usia” disepadankan dengan kata “age”.
Jadi, tandas Jeandrie, “jangan sampai salah memakai diksi ya! Karena penggunaan diksi yang berbeda, tentu maknanya juga berbeda. Terkhusus dalam penulisan formal maupun kegiatan formal lainnya”.
***
APAKAH penjelasan gamblang yang diungkapkan Jenadrie sudah benar?
Sepertinya jangan terburu-terburu menyimpukan seperti itu. Meski, pendapat Jeandrie juga tak ada salahnya. Mungkin hanya belum lengkap saja.
Seorang ustadz yang enggan disebutkan namanya, lebih memperkaya pemahaman –-sekaligus mempertegas perbedaan— antara makna kata “Usia” dengan “Umur”.
Dimana ia menggunakan “pisau bedah” sebuah diksi Bahasa Arab. Dalam bahasa yang digunakan di jazirah Arab ini, kata “Usia” disebut “Sinnun”. Sementara untuk kata “Umur” disebut “Umrun”.
Sinnun dalam Bahasa Arab, adalah kata yang bisa berarti “gigi” dan bisa juga berarti “Usia”. Adapun umrun bisa berarti “Makmur” atau berarti “Umur”.
Dari keterkaitan ini, ungkap sang ustadz, terlihat bahwa sinnun diidentikkan dengan makna “fisik” –yang diidiomkan dengan kata benda bernama “gigi”.
Sedangkan umrun diidentikkan dengan apa yang dilakukan atau diikhtiarkan seseorang, untuk “memakmurkan ‘sisa’ hidupnya”.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa “Usia”, merupakan penjelasan tentang “masa hidup biologis”. Adapun “Umur” adalah “masa hidup sejarah”.
Yang dimaksud sang ustadz begini; banyak orang yang “secara biologis memiliki masa hidup yang lama”, namun “secara sejarah ia seolah-olah tidak pernah hidup”.
Dari penjelasan seorang “ustadz yang belum terlalu populer” ini, sepertinya semakin jelas pemaknaan dan perbedaan, tentang diksi “Usia” dan “Umur”.
Secara “biologis” (baca: fisik), banyak sekali manusia di muka bumi ini, yang dilahirkan “sangat singkat” dalam menjalani hidupnya . Namun, “masa hidup sejarahnya” sangat panjang, lantaran jasa baik atau karya-karya yang dilahirkan dari pemikirannya.
Untuk mengambil contoh yang mudah saja –agar bisa menegaskan penjelasan sang ustadz–, terhadap perbedaan mendasar antara Usia (“masa hidup bilogis”) dengan Umur (”masa hidup sejarah”). Penulis mengambil figur legendaris dari dunia sastra Indonesia, yakni Chairi Anwar.

Penyair “Si Binatang Jalang”, yang lahir di Medan 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta, 28 April 1949 ini, “usia”-nya atau “masa hidup biologis”-nya relatif “singkat”, tak lebih dari 26 tahun 90 hari.
Namun “umur” atau “masa hidup sejarah” karya-karyanya –sebagai tonggak sejarah keberadaan “Pujangga Baru”–, tak pernah usai untuk dikenang, diapresiasi, bahkan dipuja berbagai kalangan, hingga pada generasi abad milenial ini.
Dengan kata lain, “masa hidup biologis” atau “usia” penyair Chairil Anwar, memang tidak pernah bertambah. Bahkan takkan pernah bisa genap hingga 27 tahun.
Namun “umur” atau “masa hidup sejarah”-nya masih “bertambah” hingga Hari Kiamat kelak. Dimana “akhir masa” dari seluruh mahluk di bumi tersebut, akan “menghentikan” semua “catatan waktu biologis” maupun “catatan waktu sejarah” anak manusia.
Jadi singkatnya, “usia” akan “selalu berkurang” lantaran selalu bergerak maju untuk mendekati “sang ajal” (baca: batas akhir). Sedangkan panjang “umur” seseorang sangat relatif; bisa panjang seperti karya-karya Chairil Anwar. Atau sebaliknya; bisa lebih pendek umurnya.
Misalnya, dengan contoh para pelaku “kenakalan remaja”, yang harus tewas atau dipenjarakan di usia sangat belia. Sehingga “sejarah hidup” mereka, seolah tak pernah ada atau tidak tercatat dalam kebaikan sejarah dunia!
***

PESAN akhir dari tulisan ini adalah, agar di dalam diri kita –baik penulis maupun pembaca–, bisa tumbuh kesadaran bahwa “akhir usia” yang bernama “kematian “, bukanlah sesuatu yang harus “ditakuti”. Justru, ia musti “dirindukan”!
Apa pasal? Sebab, “liang lahat” sejatinya bukan “lubang akhir” dari perjalanan hidup kita. Melainkan, justru akan menjadi “pintu gerbang” perjumpaan kita dengan ‘kekasih’ yang sesungguhnya; ALLAH ‘azza wajalla.
Saat seseorang meninggal, kala itulah akan menjadi sebuah “kebahagiaan yang sejati”. Pada saat yang sama, kematian juga bisa menjadi “penderitaan tanpa akhir”.
Tentunya, semuanya tergantung dari amal perbuatan kita semua di dunia. Atau sejauh mana ia telah mengisi kehidupannya dengan melahirkan karya. Karya apapun itu, sejauh bisa memberi kebermanfaatan bagi kepentingan orang banyak.
Maka dari itu mulailah berkaryalah, dan tetaplah berkarya! Karena lewat karya-karya itulah, kita dapat “memanjangkan umur“. Walau “usia biologis” kita –mungkin– relatif singkat.
Dan yang paling ideal, Allah akan panjangkan “usia” kita. Juga Allah perlama “umur” kebermanfaatan kita pada sesama manusia.
Maksudnya, Allah akan panjangkan “perjalanan langkah sisa waktu hidup” kita di dunia. Pun Allah akan “perlama catatan sejarah hidup” kita. Tentunya lewat karya-karya yang masih akan “terus hidup”, selama peradaban manusia masih berlangsung di muka bumi ini. Aamiin…
***
Gusjaw Soelarto 70_87 adalah Jurnalis Harian Umum Media Indonesia (1989-1997), Redaktur Artistik Tabloid C&R dan Tabloid Buletin Sinetron (1999-2001), Produser program “MK Files” di Makamah Konstitusi (MK) TV (2011-2012), tayang 53 episode di TV One)
