Dr. Ceva 70_86: Tak Ada Perbedaan pada Gejala ‘Varian Baru’ Covid-19

Laporan Gusjaw Solarto 70_87 | Pemred alumnisma70.com

[Jakarta – alumnisma70.com]: Dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, Sp.PD-KP, KIC, alumnus 70_86 menjelaskan, sebagai konsultan spesialis penyakit dalam Pulmonologi (Paru), ia tidak melihat adanya perbedaan pada gejala yang ditimbulkan dari dugaan telah munculnya “varian baru” virus Covid-19.

Sebuah informasi publik melalui meme yang disebarkan lembaga philanthropykemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) –yang bermarkas di Jakarta-, menyebutkan “gejala yang wajib diketahui masyarakat berkaitan adanya “Covid-19 Terbaru”, antara lain, penderita merasakan “sakit kepala” berupa migrain sidertai demam tinggi; “infeksi mata” dengan kondisi mata merah; “anosmia” dengan hilangnya daya penciuman.

Juga merasakan “nyeri otot” sebagai respon terhadap infeksi; “gatal-gatal” dengan muncul bintik merah serasa terbakar; dan “sakit perut” seperti diare dan muntah-muntah.

Dengan informasi publik tersebut, menurut dr. Ceva yang aktif melayani pasien di RS Cipto Mangunkusumo Kencana, Jakarta Pusat ini, ia sering menemui gejala serupa pada Covid-19, sejak sebelum munculnya dugaan adanya “varian baru” seperti yang dilansir ACT.

“Sehingga, saya tidak melihat ada yang berbeda dari gejala-gejalanya, kalaupun itu disebut sebagai gejala virus ‘varian baru’,” kata dr Ceva, eksklusif pagi ini (30/12/2020) kepada alumnisma70.com.

Dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, Sp.PD-KP, KIC: Ketua Tim Adhoc Covid-19 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)

Ia pun membenarkan, memang adanya laporan dari temuan yang menyebutkan di wilayah Inggris Selatan, ditemukan “varian baru” dari Covid-19. Dengan indikasi awal, lebih mudah penularannya dari jenis virus sebelumnya.

“Laporan dari temuan di Inggris Selatan sih begitu, lebih menularkan. Tetapi belum ada bukti bahwa itu lebih mematikan atau sebaliknya lebih ringan gejalanya,” tambah dr. Ceva, suami Ana Andriany, alumnus 70_87.

Dengan dugaan munculnya “varian baru” Covid-19 yang mudah menular ini, ia menyarakan  sebisa mungkin masyarakat jangan memanfaatkan liburan tahun ini untuk berpergian. Jika terpaksa harus bepergian keluar kota atau ke Kawasan kerumunan massa, “tolong pulangnya melakukan isolasi mandiri,” tegas Ketua Tim Adhoc Covid-19 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Yakni, lanjut dr. Ceva, dengan tidak bekerja atau melakjukan aktivitas keluar rumah minimal lima hari hingga maksimal 14 hari. “Sampai yakin tak ada gejala, termasuk tak bisa mengecap, tidak bisa mencium aroma apapun, sakit perut, diare, pusing, apalagi demam, atau batuk, sakit tenggorokan dan pilek,” ungkap anggota Tim Ahli kerjasama 5 Organisasi Profesi Dokter Indonesia.

Atau pilihan lain, tambah dr. Ceva yang  sudah resign dari Gugus tugas Penangulangan Nasional Covid-19, sehari atau dua hari setelah liburan, lakukan SWAB –tapi ini berbiaya–, baru kemudian keluar bekerja ke kantor.

Kini, dr. Ceva selain praktek diRS Cipto Mangunkusumo Kencana,Senen, Jakarta Pusat, juga aktif melayani pasien di RS Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dan RS Sari Asih, Ciledug, Tangerang.***