Jurit Malam PMR 1983: Pocongnya Kok Nambah “Bonus” Satu…?!

Kisah Nyata di Jurit Malam Pelantikan PMR 70_83

Dikisahkan Sentot Janinto 70_84 | Editor Gusjaw Soelarto 70_87

PMR 70_83/84/85: Panitia & Peserta Pelantikan PMR 70_83

INIlah kisah kocak sekaligus serem, yang dialami semasa kegiatan “Jurit Malam” Anak Palang Merah Remaja (PMR) SMA 70 di era tahun 1983. Sebagai bagian dari rangkaian acara pelantikan angggota PMR pada “era jadul” saat itu.   

Kegiatan Jurit Malam dilakukan di Kampung Perigi, Ciledug, Tangerang. Yang kala itu, daerah tersebut masih tergolong “udik bingit” dan dikenal sebagai kawasan “tempat jin dan syeitan buang anak haram”, hehehe…

CANTIK & GANTENG: Inilah anggota PMR 70 era 80an awal yang canti-cantik & ganteng-ganteng.

Lantaran, selain masih belum ada rumah penduduk di daerah itu. Juga, daerah sekitarnya masih banyak hutan bambu dan pohon-pohon besar lainnya. Apalagi, disana terkenal dengan sebuah makam tentara “pahlawan tak dikenal” yang gugur sebagai pejuang dalam “perang Timor Timur” di masa Orde Baru.

Sudah pasti, kawasan itu sangat “cucok” buat kegiatan Jurit Malam. Memang top dah, tim survei yang cari daerah serem tersebut.

Malam pun  tiba. Tenda-tenda tempat camping calon anggota PMR sudah didirikan. Seragam kebanggaan PMR “putih-putih” pun sudah dikenakan.  

PASUKAN “PUTIH-PUTIH”: Seragam kebanggaan PMR 70

Rute Jurit malam pun telah ditentukan. Ada yang melewati jalur menurun dan jalan menanjak. Nah, Pos tempat saya ditugaskan, berada di medan yang setelah jalan turunan, lalu langsung jalur menanjak tadi. Ide jail pun cepat muncul melihat medan yang “serem dan menantang” itu.

Tepat di punggung tanjakan, saya gantungkan sebuah “boneka pocong-pocongan” yang seolah bisa “terbang”, ketika ditarik dan diulur dari jauh, dengan seutas tali panjang. Pokoknya hits banget dah, pos tempat saya mangkal, hihihi…

Tak ayal, ketika para peserta pelantikan PMR dilepas dari bacecamp, tepat jam 12 malam, banyak yang langsung ”tumbang”, saat ketika melewati “Pos Pocong” yang saya jaga. Khususnya para peserta perempuan.

BONUS POCONG: Sentot Janinto 70_83 dengan pocong-pocongan bikininannya.
Yang saat Jurit Malam jadi nambah “bonus” satu pocong lagi
. (Foto ini hasil editan).

Banyak yang berteriak histeris, karena kaget dan ketakutan. Ada juga yang hingga menangis terisak-isak. Bahkan ada yang langsung lari terbirit-birit, untuk putar balik ke arah tenda basecamp. Wah, pokoknya seru dan sukses deh tugas saya malam itu, ngerjain calon anggota PMR yang baru dilantik.

Namun pagi harinya, sekitar jam 9 pagi, saat semua peserta berkumpul di sekitar tenda, untuk menceritakan kisahnya masing-masing di momen Jurit Malam, tiba-tiba ada yang nyeletuk bertanya.

MEJENG: Meski terasa lelah seusai acara Jurit Malam, namun saat sesi “mejeng” tetap ingin tampak cantik.

“Kak, pocong-pocongannya semalam ada dua ya? Satu yang terbang naik turun, dan yang satu lagi Cuma diem ajaa… Yang meneng bae, serem loh kak… Siapa yang nyamar kak…?!” kata salah satu peserta.

Waduh, saya jadi kebingunan sendiri untuk menjawabnya. Saya pun langsung merinding mendengarnya. Karena, memang nyatanya saya cuma bikin satu pocong-pocongannya! Dan cuma saya sendirian yang jaga di pos itu.

“Berarti pocong-pocongan yang satunya lagi siapa ya? Jangan-jangan memang beneran. Pantes, tadi malam ada bau-bau ngga enak disekitar situ,” bisik saya dalam hati. Hiii… atuuuutttt…!!!

MODUS PELANTIIKAN: Semua rasa takut hilang dalam sekejap, setelah melantik si cantik.

Namun, saat pelantikan tiba, semua rasa takut tadi hilang dalam sekejap. Karena, saya kebagian melantik, salah satu siswa tercantik di angkatan itu. Namanya Yanti, anggota PMR 70_85. ModussShhh…!

Memang angkatan awal PMR SMA 70 saat itu, terkenal cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan yang tak kalah penting, sudah banyak menyumbang juara buat Almamater SMA 70. ***