#HariIbu #IbuMilenial
“Ibu Milenial”: Apakah Sudah Alami Pergeseran Kodrat?
Oleh ANS 70_05
TAKKAN habis kita membahas tema tentang “Ibu”. Menggali tentang sosok yang sangat berperan bagi kelangsungan hidup seluruh umat manusia ini, bak mengali “sumur tanpa dasar”. Yang tak berujung!
Figur yang dalam keyakinan umat muslim, “derajatnya” 3 kali lebih tinggi “di atas” eksistensi keberadaan sosok Ayah. Lantaran sosoknya yang memang “bisa menggantikan peran ayah”, namun “sulit tergantikan oleh sang ayah”.
Yang di era milenial ini, perannya perlu terus dipertanyakan: “apakah telah mengalami pergeseran makna?” Khususnya di tengah berbagai dinamika perubahan zaman “yang bergulir cepat di era digital 4.0” (four point 0) ini? Sehingga peran Ibu, bisa jadi “tak lagi tulus” dalam mengemban “amanah kodrat keperempuanan”-nya yang –idealnya– penuh dengan “sentuhan hati”?

Sebelum menjawab “pertanyaan tajam” di atas, mari kita simak berbagai macam definisi “Ibu”.
Seperti pernyataan sebagian kaum perempuan –yang mengaku “modern” belakangan ini–, yang menyatakan bahwa peringatan Hari Ibu, 22 Desember kemarin, bukanlah semata “Hari Ibu”. Namun lebih layak disebut sebagai “Hari Pemberdayaan Perempuan”, karena semua perempuan itu “berdaya”, baik ia melahirkan maupun tidak. Begitu kata mereka.
Lain hal lagi dengan beberapa pengertian Ibu, yang sempat disinggung dalam “Kolom Resonansi” di Republika Onine, berikut ini:
Makna “Ibu” –sebagai kata benda–, adalah seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran. Pada definisi lain, kata “Ibu” dimaknai sebagai seseorang yang mencintai tanpa syarat. Orang yang membangun karakter dan menyembuhkan “hati yang luka”. Orang yang membuat dan menjaga memori indah. Dan orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman.
Bahkan ada satu definisi yang menyebut “Ibu” sebagai kata kerja, adalah orang mampu mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, dan menyemangati.
Nah, sekarang tergantung kita mau “melihat” dan “memaknai” dari “kacamata” yang mana?
***

LALU bagaimana makna “Ibu” di zaman yang penuh dengan hingar bingar teknologi dan perkembangan zaman ini? Yang sepertinya memaksa seorang “Ibu” harus mampu berperan sebagai “bunda”, yang bisa beradaptasi akan kebutuhan anak-anaknya.
Mampu menjadi Ibu yang bisa lebih “memahami” setiap insan dalam keluarganya. Dan memampukan Ibu untuk tidak buta akan teknologi itu sendiri. Karena jika “sang Ibu” tak bisa menjadi “Ibu Milenial” sesuai perkembangan zaman, rasanya akan sulit “dekat” dengan “hati” sang anak.
Menurut Erdin Joedhoatmodjo 70_86, peran ibu yang sejak dahulu hingga abad milenial ini, tidak ada yang beda. Yang berubah adalah zamannya itu sendiri.
“Ibu sejak dahulu bertugas melindungi anak-anaknya, meski jaman berubah. Coba perhatikan, bagaimana nggak deg-degannya, seorang ibu perlu bikin strategi komunikasi dengan remajanya, yang hari-harinya tidak bisa lepas dari gadget,” jelas Erdin, penggagas Facebook Group (FBG) 70 Bulungan Peduli Pendidikan.

Sebegitu kompleksnya menjalani peran Ibu di masa kontemporer ini. Masa yang dimana tantangan terlihat jelas di depan mata, serta rintangan terasa begitu dekat. Namun dengan keterbatasan yang mungkin Ibu itu sendiri miliki, tak sedikit yang merasa “tak mampu”, bahkan “tak pantas” menjadi seorang Ibu.
Seorang Ibu di masa ini harus mampu beradaptasi dengan ilmu yang setiap hari, setiap jam, bahkan tiap detiknya harus terus meng-update diri. Selain, ia harus benar-benar “dipaksa” faham pada apa saja kebutuhan anak, keluarga, dan tentu suaminya.
Seperti disinyalir Erdin, begitu banyak kemungkin dampak negatif dari informasi yang didapat dari penggunaan gadget, jika remaja tidak dibekali dengan pemahaman antara tanggungjawab dan konsekuensi. “Itu semata karena kasih sayang ibu kepada anaknya agar selalu terhindar dari masalah,” lanjutnya via daring, saat ditanya penulis tentang peran ibu di milenial ini.
Rasanya tak hanya anak dan anggota keluarga lainnya yang harus dibekali, jika berhubungan dengan gadget dan perangkat tetek bengek-nya. Kemudahan akses informasi, dimanapun dan kapanpun, sejatinya menjadi “pekerjaan rumah” untuk kita semua, manusia di muka bumi ini. Agar mampu beradaptasi dengan baik demi kelangsungan hidup, mental, dan akhlak yang tetap baik.
Mengingat, sebuah kehidupan berawal mula dari bangunan keluarga. Dimana pondasi dasar dari sebuah keluarga adalah seorang Ibu sebagai “sentral”nya. Sehingga, sudah seharusnya “sang ibu milenial” mesti punya bekal, dan harus lebih siap dibandingkan anak-anak dan keluarganya.
Jika tidak, sebuah ungkapan “konspirasi global” menyatakan bahwa “jika ingin membangun sebuah bangsa, maka didik kaum perempuannya. Dan sebaliknya, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, maka rusak pola pendidikan dan metal perempuan yang akan menjadi ibu-ibu bangsa tersebut.”
***

Di tengah berkembang dan tumbuhnya teklogi digital 4.0, sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu muda mengandalkan sebuah aplikasi “pesan makanan online”. Sehingga, ia lebih hafal nama-nama tempat makanan yang murah dan enak, ketimbang anaknya suka dimasakan jenis makanan apa?
Atau asisten rumah tangga di rumah –untuk sekadar tidak menyebut istilah “pembantu rumah tangga”–, lebih hafal masakan kesukaan majikan lelakinya, ketimbang sang istri. Bahkan sang istri lebih hafal, nama dan alamat restaurant, tempat suaminya sering mengajak makan malam, ketimbang apa jenis makanan, sayuran dan buah-buahan kegemaran suaminya.
Benarkah Ibu Milenial adalah Ibu yang demikian?
Saya rasa tidak ada satu orang pun Ibu (baca: istri) yang ingin dikatakan gagal dalam menjalankan perannya. Tidak ada seorang Ibu pun yang bisa kita bandingkan dan justifikasi perannya.

Tidak ada seorang Ibu pun yang pantas untuk diberikan ‘judgment’ mengenai bagaimana pola asuh ibu terhadap anak-anaknya, dan bagaimana Ibu berperilaku dalam rumahnya. Karena mau bagaimanapun sosok Ibu tersebut, pasti dan akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya.
Namun memang, banyak bekal yang harus Ibu miliki di zaman ini. Yang harus dituntut lebih luas pengetahuannya, harus lebih sabar dan kuat dalam segala hal, dibandingkan anak-anaknya. Namun bukan berarti mengecilkan peran Ibu yang tidak seperti itu. Karena penulis yakin, seorang Ibu selalu tahu bagaimana cara mengatasi suatu permasalahan. Apalagi yang berhubungan dengan anak dan keluarganya.
Melansir dari salah satu laman parenting, tentang makna dan peran “Ibu milenial”, parenting.dream.co,id menjabarkan ada 8 ciri:
1. Cerdas. Mayoritas “ibu milenial” adalah perempuan yang terdidik. Mereka cenderung kritis terhadap pola pengasuhan anak.
2. Sadar teknologi. “Ibu milenial” tumbuh dengan kemajuan teknologi di sekitarnya, salah satunya internet. Ibu milenial rata-rata mempunyai 3 sampai 4 akun sosial media yang berbeda seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan Pinterest. Menurut data dari Weber Shandwick, setiap minggu ibu milenial menggunakan empat jam lebih banyak dari ibu pada umunya untuk menggunakan internet.
3. Banyak teman. “Ibu milenial dikenal cukup baik dalam bergaul, karena mereka banyak memiliki teman dan cukup populer. Sekitar 90 % dari mereka, rata-rata senang berbagi informasi mengenai apa pun, seperti tentang belanja, investasi, keuangan, kesehatan, bahkan asuransi.
4. Tidak ingin selalu “menjadi ibu”. “Me Time” atau “waktu untuk diri sendiri” sangat penting. “Ibu milenial” tak ingin seluruh waktunya untuk menjadi ibu. Mereka ingin memiliki waktu sendiri untuk melakukan aktivitas tanpa diganggu urusan rumah tangga. Bisa hanya dengan membaca buku, ke salon, atau pergi dengan teman-temannya.

5. Tetap mengikuti gaya tradisional. Meski sudah generasi yang terbilang modern, ada satu gaya tradisional dalam urusan rumah tangga yang dicontoh “ibu milenial” dari generasi sebelumnya. “Ibu milenial” terpikirkan untuk meniti karir, tapi mengambil pekerjaan yang memang untuk memenuhi kebutuhan diri sebagai seorang ribadi, bukan hanya karena tuntutan ekonomi
6. Mengalami kesulitan yang lebih dibanding generasi sebelumnya. Meskipun “ibu milenial” dinilai lebih terdidik, tetapi mereka tetap mengalami kesulitan dibanding ibu-ibu generasi sebelumnya. Menurut laporan dari Goldman Sachs, “ibu milenial” mau tidak mau harus berhadapan dengan pasar ekonomi, yang membuat mereka harus bekerja lebih ekstra dengan waktu yang minim untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
7. Tetap menjalin komunikasi dengan orangtua. Meskipun “ibu milenial” cenderung kekurangan waktu, tapi mereka tidak pernah memutus komunikasi dengan orangtuanya. Menurut BabyCenter, “ibu milenial” dua kali lebih sering menghubungi orang tua melalui pesan teks.
8. Melakukan hobi. “Ibu milenial” menyukai sesuatu yang kreatif. Mereka menyukai terlibat dengan komunitas untuk melakukan apa yang mereka sukai. BabyCenter melakukan survey terhadap 5 orang “ibu milenial. Faktanya, 1 di antara 5 “Ibu milenial” telah mempunyai blog dengan banyak pengikut, hingga memulai bisnis dari hobinya tersebut.
Jika melihat poin-poin di atas, mungkin bisa terlihat jelas bagaimana rentang perbedaan menjadi ibu di masa yang lalu dan masa sekarang (milenial). Poin-poin diatas akan terasa kurang cocok jika terjadi di masa lampau. Namun, terasa sesuai jika penerapannya terjadi di masa kini.
Masa yang memiliki dunia yang adaptif. Masa dimana seorang Ibu pun harus mampu membahagiakan dirinya sendiri, sebelum akhirnya mampu mendampingi anak-anak dan suaminya.
“Mayoritas ‘ibu milenial’ tidak ingin membesarkan anaknya dengan cara yang sama seperti mereka dibesarkan. Ibu milenial ingin terlibat langsung dalam pertumbuhan anak mereka, tapi tetap mengikuti perkembangan zaman.”
Begitulah sosok “Ibu milenial’ yang dapat penulis jabarkan. Jika ditanya soal ketulusan, penulis yakin, tak ada Ibu yang tak tulus. Tak ada ibu yang tak sayang pada anak dan keluarganya.
Tak ada Ibu yang menjalankan perannya dengan “setengah hati”. Apalagi menjalankan amanah yang diembannya tanpa “sentuhan hati”.
Bagaimana seorang Ibu berperan “tanpa hati”. Jika semenjak sang anak dalam kandungan saja, sudah sangat dekat dengan HATI Sang Ibundanya.
Semua Ibu Hebat. Semua Ibu Sempurna. Semua Ibu Berhak Bahagia. Karena, kebahagiaan Ibu adalah kunci dalam membesarkan anak-anaknya.
Kebahagiaan Ibu adalah jantung dalam sebuah rumah dan keluarga. Kebahagiaan Ibu adalah jalan ridha Sang Kuasa.
Selamat untuk predikat “Ibu” untuk semua wanita yang memperjuangkan anak dan keluarganya.
Selamat karena telah berhasil mencurahkan segala kasih sayang, pengorbanan, dan perjuangan yang Ibu punya untuk keluarga.
Selamat Hari Ibu: “may this special day be as lovely and perfect as you!”
***
Penulis Amira Naya Sakinah 70_05 adalah ibu rumahtangga dengan dua putri yang mulai aktif menulis sebagai penggiat sosial media almamater SMA 70 Bulungan.
Editor Gusjaw Soelarto 70_87
