[alumnisma70.com]: Sejak awal penggabungan dua sekolah favorit SMA Negeri 9 dan SMA Negri 11, menjadi SMA Negeri 70 Bulungan-Jakarta, nama baru tersebut terus dipertanyakan: dari mana asal angka “70” ini?
Konon, penamaan sekolah yang berada di “kompleks” Jl. Bulungan Blok C No.1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu, sengaja dicari oleh pihak Kanwil Depdikbud DKI Jakarta, yang tak ada hubungannya dengan rumus “penjumlahan”, “pengurangan”, “perkalian”, dan “pembagian” langsung antara angka “9” dan “11”.

Misalnya dengan rumus penjumlahan:
9 + 11 = 20
Rumus pengurangan:
9 – 11 = -2
11 – 9 = 2
Rumus perkalian:
9 x 11 = 99
Rumus pembagian:
9 : 11 = 0.818
11 : 9 = 1,222
Dari hasil survei “iseng-iseng” selama dua kali 24 jam di Facebook Grup Alumni 70 Bulungan yang kini sudah di-follow sebanyak 5.300an alumnus SMA 70, ternyata ditemukan rumus jawaban yang cukup akurat untuk menjawab “bertemunya” varian angka “9” dan “11” menjadi “70”.
Sejauh ini, sudah ada 3 netizen (Ramses Yohannes Hutahaean, Harry Barli dan Triyudha Ratulangie Ichwan) dari 6 pemberi komentar, yang menjawab dengan rumus:
92 – 11 = (81 – 11) = 70
Artinya, untuk menemukan rasionalisasi bertemunya dua varian angka 9 dan 11 itu, tetap dibutuhkan dua “alat bantu” rumus matematika. Yakni rumus “kuadrat” (2) dan “pengurangan” (-), hingga ketemu “angka turunan baru” bernama 70.
Hingga berita ini diturunkan pada 12-12-2020, pukul 06:00 WIB (12 + 12 + 20 + 20 + 06 + 00 = 70), belum ada rumus lain, selain rumus di atas yang bisa menandingi “rasionalisasi” rumus “kuadrat” dan “pengurangan” tersebut.
Kalaupun muncul argumen lain di kolom komentar, sepertinya data ini tidak ada hubungan langsung dengan upaya untuk mencari “pemecahan” rumus tersebut.
Tata Sandrianto menjelaskan, bahwa pada saat awal penggabungan antara SMA 9 dan SMA 11, SMA Negeri 70 Jakarta, memiliki 91 kelas yang terdiri dari 4.806 orang siswa, 183 orang guru, 75 orang karyawan, dan 11 orang wakil kepala sekolah.
Sementara Arief Arief malah “berandai-andai” –untuk sekadar tidak menyebut berhalusinasi, hehehe–, dengan menuliskan: “Sepengamatan saya, sebenernya saat penggabungan antara SMA 9 dan SMA 11, adalah sudah benar menjadi SMA 20. Hanya saat itu kan belum ada printer –mungkin ada namun belum lazim digunakan–, jadi masih menggunakan mesin tik manual.”
“Nah disitulah persoalan muncul, mungkin karena pita mesin tik nya sudah mulai pudar. Angka 20 di surat penetapan agak buram. Dan pejabat di P & K, karena kesulitan membaca angka buram itu, mereka menebak aja… Jadilah 70!… hehehe…”
Arief sendiri, yang menyebut jawabannya di atas hanya sekadar “mencoba meretjeh” di tengah pandemic Covid-19 yang belum juga usai. ***
Dirangkum oleh Gusjaw Soelarto 70_87
