MUSIBAH ITU TERNYATA INDAH

#KolomFilsafatTaiAyam

Tak ada yang buruk, jika datangnya dari ALLAH

Oleh Gusjaw Soelarto

ALLAH tergantung dari prasangka hambaNYA

Semua boleh hilang, asal jangan ALLAH

KIRA-KIRA begitu kesimpulan besar atas musibah yang saya alami baru-baru ini. Tepatnya pada hari Rabu malam, 18 November 2020, pukul 22:30 WIB. Hanphone (HP) saya “diminta” secara paksa oleh tiga orang begundal di angkot C-01 jurusan Ciledug-Blok M (pp).

Buat saya,  ini bukan musibah kehilangan sebuah barang yang baru sekali-dua kali. Tetapi mungkin hampir sepuluh kali saya alami. Apalagi hanya sebuah handphone (HP).

Bahkan untuk sebuah motor Yamaha RX King pun, saya sudah pernah mengalaminya dua kali kecurian. Ini bukannya sedang membanggakan sebuah musibah. Atau curhat tentang “ketidakberuntungan”.

Ini hanyalah sebuah catatan data empirik. Sehingga, saya harus super hati-hati dalam merawat dan menjaga barang. Agar tidak selalu terperosok dalam lubang yang sama. Yaitu selalu lalai dan tidak menganggap penting atas “kepemilikan” sebuah barang.

Sikap ceroboh itu, tentu saja tidak boleh saya “bela” lewat sebuah nasehat dari seorang ulama mashur, yang lahir di akhir Abad ke-13 ini. Bahwa sebaiknya kita “jangan menyimpan harta di dalam hati. Tapi cukup letakkan di tangan saja”.

Sepertinya kurang tepat, jika nasehat Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah itu, saya tempatkan untuk “membenarkan” sikap kecerobohan saya itu.

Sejatinya, makna kalimat bijak bernuansa sprititual itu, bertujuan agar kita tidak terlalu meratapi atau bahkan mengutuk kehidupan. Atas musibah kehilangan barang seperti yang saya alami.

Prinsipnya, menurut Ibnu Qoyim, kita harus memutus “hubungan batin” antara kita dengan harta dan kepentingan dunia kita. Ketika orang telah berhasil “memutus hubungan” antara hati dengan semua urusan dunianya, maka kondisi lahiriyah (wadak fisiknya) tidak akan terpengaruhi.

Sehingga selama harta itu hanya berada “di tangan” kita –dan tidak sampai “ke hati”–, maka “masih ada”, “masih banyak”, “sudah sedikit”, atau bahkan “sudah raib”nya harta itu–, tidak akan memberikan pengaruh kepada sikap kehidupan kita.

“Namun jika harta itu bersemayam di hatimu, maka dia akan membahayakan dirimu. Meskipun di tanganmu, sudah tidak ada harta sedikitpun,” jelas Ibnu Qoyim dalam kitab Madarijus Salikin, hlm. 465.

Kesadaran semacam ini, tentu saya dapat dari berbagai “pengalaman” atas kehilangan barang yang sudah menjadi semacam “habbit” (kebiasaan buruk). Yang tentu saja, telah melatih olah batin (spiritual quotion) saya, bahwa setiap barang yang saya miliki, sudah pasti kelak akan hilang atau musnah.

Jika kita masih kecewa dan marah –bahkan tak sedilkit yang menghujat Allah– akibat “rasa kehilangan” itu, artinya kita masih “menyimpan dunia” di dalam hati kita.

***

PERISTIWA kehilangan HP kali ini, memang sangat “berkesan istimewa dan mendalam” buat saya. Pasalnya, kali ini saya dihadapkan pada dua plilihan ekstrim:  HP yang hilang atau nyawa yang hilang!

Kok bisa seekstrim itu pilihannya?

Malam itu, saya terpaksa pulang kerja naik angkot. Yang biasanya, saya pulang-pergi dari Ciledug menuju Jl. RS. Fatmawati, mengendari motor sendiri. Namun hari itu, karena si bungsu sudah tiga hari sebelumnya “booking” akan memakai motor itu, akhirnya saya menuju kantor dengan diantarkan si Bungsu.

Konsekuensi logisnya, malam hari saya harus pulang dengan angkutan umum. Selepas Zoom Meeting dari jam 19:30 – 21:30 WIB di kantor redaksi alumnisma70.com, saya order ojek online menuju Pasar Mayestik. Dengan harapan bisa mengejar Bus TransJakarta terakhir, yang sejak diberlakukan PSBB akibat pandemi Covid-19, hanya terbatas sampai jam 22:00 WIB. Biasanya di kondisi normal, beroperasi hingga jam 23:00 WIB.

Sayangnya, saya tiba di halte depan pasar Mayestik sudah sekitar jam 22:15 WIB. Artinya rute Bus TransJakarta menuju halte terakhir Puri Beta II, Ciledug, sudah tidak beroperasi lagi.

Terpaksalah untuk bisa sampai rumah, saya harus menggunakan angkot C-01 yang beroperasi 24 jam untuk trayek Ciledug – Terminal Blok M (pp). Bahkan jika sudah di atas jam 22:00 WIB, ada yang melayani rute Ciledug – Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Disinilah peristiwa “dramatik” itu bermula. Biasanya, jika naik angkot, saya selalu memilih duduk di samping sopir. Dan saya akan menyetop angkot yang masih belum ada penumpang di kursi depannya.

Tetapi karena takut terlalu larut, akhirnya saya terpaksa memilih angkot yang sudah terisi kursi di depannya. Karena melihat ruang belakangnya masih belum ada penumpang yang naik.

Setelah memilih duduk di pojok paling belakang sebelah kanan, sesampai di Pasar Keb. Lama, naiklah dua orang anak muda berbadan kekar yang mengenakan topi hitam. Tak lama kemudian, sebelum Pasar Cipulir, naik lagi satu orang berpostur lebih kurus, tapi tidak bertopi. Tak ada keraguan muncul dalam benak saya saat itu. Lantaran penumpang yang baru saja naik, mengenakan kemeja rapi, layaknya pekerja yang baru pulang sehabis lembur kantoran, seperti saya.

Dua orang yang naik lebih dulu dari Keb. Lama, memilih duduk berhadapan di depan saya. Sementara pria yang berkemeja rapi tadi, langsung duduk di samping kanan. Sehingga sehingga posisi saya saat ini, seolah “dikepung” mereka bertiga.

Sebenarnya, saat itu sudah ada feeling akan tanda-tanda yang mencurigakan. Tapi coba saya lawan dengan prasangka baik.

Dan benar. Tak lama setelah lewat Pasar Cipulir tidak ada lagi penumpang yang naik, baru lah mereka beraksi. Awalnya, penumpang yang berada di sisi kanan saya, mulai membuka pembicaraan dengan bertanya, “turun dimana Pak?” “Di Ciledug,” jawab saya.

Saat angkot melintasi jalan putar di kolong jembatan Tol JORR –yang memang gelap dan sepi–, tiba-tiba penumpang yang bertanya tadi, langsung menempelkan sebilah pisau kecil ke arah pinggang saya, sambil memaksa, “Kasihin tuh HP,” katanya sambil melotot.

Saya baru benar-benar sadar sedang dalam situasi yang membahayakan jiwa saya. Setelah melihat kedua orang yang di depan saya tidak bereaksi apa-apa. Artinya, kedua orang itu ternyata adalah bagian dari komplotan penjahat penodongan di mobil angkot.

Dalam kondisi yang sudah terjepit, dan tidak bisa lagi meminta bantuan orang lain –karena jalan di samping Tol JORR cukup gelap dan sepi–, terpaksalah saya serahkan HP yang baru dua bulan berada di tangan saya itu.

Mereka tahu  saya punya HP, karena sebelumnya, saya sempat mengirim pesan ke si Bungsu. Untuk minta dijemput di perempatan lampu merah Ciledug.

Begitu saya mengeluarkan HP berwarna hitam yang masih “klimis” itu, mereka langsung cepat merampas dari tangan saya. Dan mereka bertiga langsung “ngacir ” keluar. Saat angkot berjalan lambat di tikungan jalan pertemuan jalan putar Tol JORR dengan jalan uatama Ciledug Raya.

Selepas mereka pergi, saya sudah tak sempat lagi menyesali HP saya yang baru saja raib, ikut pergi bersama mereka. Justru saya langsung berucap,”alhamdulillah…”. Loh kok malah bersyukur..?!

Ya, kata yang satu itu tiba-tiba spontan meluncur dari bibir saya. Lantaran situasi psikologis yang saya alami beberapa detik berlalu itu: bahwa saya baru saja lolos dari kematian!

Atau minimal, saya akan mengalami luka-luka berat akibat tikaman pisau yang sudah menempel di perut saya yang buncit ini. Ditambah semua barang bawaan saya akan ikut pergi, bersama “pergi”nya nyawa saya…

Bayangkan, jika saya berusaha melawan. Pasti dua orang komplotan lainnya akan ikut “ambil bagian” untuk melucuti barang-barang lain yang saya bawa. Malam itu, saya juga membawa tas ransel berisi laptop MSI, yang baru tiga bulan dibeli dengan harga hampir 15 Juta!

Jadi pantas kan jika saya malah harus bersyukur?

Memang ada dalil di agama saya, jika saya mati pun malam itu dalam mempertahankan harta saya, maka saya tergolong orang yang “mati syahid”. Dan Surga ALLAH ganjarannya. Enak kan…?!

Namun saya punya pertimbangan lain. Disamping saya tidak sempat berfikir tentang ganjaran “mati syahid” saat itu. Juga saya tidak mau “egois” masuk surga sendirian.

Sementara keluarga saya, yang saya tinggalkan, pasti akan sedih mendengar kematian saya. Dan mereka pun –istri dan tiga anak saya–, akan bekerja lebih keras lagi demi melanjutkan kehidupan. Apapun yang terjadi “live is go on”

Bukan kah, melanjutkan kelangsungan hidup dalam menghidupi keluarga. Dengan bersusah payah di tengah wabah Covid yang belum kunjung usai ini, adalah juga termasuk dalam “perjuangan” yang tak kalah berat? Yang insyaa Allah, juga berganjaran surgaNYA ALLAH…?!

Saya bukan takut mati. Karena kematian itu pasti datang. Tak bisa ditawar. Bahkan Fir’aun pun yang mengaku dirinya Tuhan, juga tetap mati.

Dan kematian, sejatinya adalah “pintu gerbang” perjumpaan kita dengan Sang Khalik. Jadi, jika kita takut mati, berarti kita enggan berjumpa dengan ALLAH. Tinggal persoalannya, sudah cukupkah bekal yang kita bawa untuk bisa melihat wajahNYA?

***

ADA beberapa pesan sosial dan pesan moral yang bisa dipetik dari pertiwa ini:

1. Jangan pernah memilih moda angkot di malam hari. Khususnya di atas jam 21:00 WIB. Jika harus bepergian sendirian, menggunakan kendaraan umum. Sebaiknya, gunakan jasa angkutan TransJakarta jika masih beroperasi. Jika sudah tidak beroperasi, idealnya pilih moda angkutan ojeg online. Agar lebih terjamin keselamatan nyawa dan harta benda kita.

2. Secara umum, memang semenjak PSBB wabah Covid-19, tingkat kerawanan soaial di angkutan umum, maupun di tempat-tempat umum, semakin tinggi. Khususnya di kawasan Keb. Lama dan Ciledug.

Karena petistiwa yang saya alami kehilangan HP ini, sudah yang kedua kali sepanjang dua bulan terakhir. Sebelumnya HP saya dicopet di Pasar Lembang, Ciledug, saat belanja di kios buah di pinggiran jalan.

Bahkan teman wanita sesama angkatan 70_87, juga baru kecopetan dua HPnya di angkot C-01 (Ciledug-Keb. Lama/Blok M) tersebut.

3. Utamakan keselamatan nyawa, dari pada mempertahankan harta benda kita. Lantaran, pelaku tindak kriminal –karena keterdesakan ekonomi–, bisa jauh lebih nekat, jika melihat gelagat kita akan melakukan perlawanan. Saya lebih memilih berfikir rasional daripada emosional sebagai “kana hujut hulup”.

4. Jangan pernah menyesali atas peristiwa yang sudah terjadi. Sekalipun itu peristiwa buruk, yang “seolah” merugikan kita. Karena semua tak terlepas dari “garisan tangan” kita atas izin ALLAH, tentunya. Dan semua yang datangnya dari ALLAH, pasti baik tujuannya.

Bahkan jika kita ridha atas musibah yang atas izin ALLAH itu. Insyaa Allah ALLAH pun akan ridha untuk meberikan jalan keluarnya.

“Bersamaan dengan kesulitan dan ujian buat kita, sudah Allah siapkan jalan keluarnya yang lebih baik,” begitu kata Kitab Suci dalam agama saya. “Jangan pernah menyalahkan ALLAH, apalagi membenci dan mengutuk kehidupan saat kita ditimpa musibah. Karena hal itu bisa membatalakan keimananan kita kepadaNYA”.

Anggap saja, kejadian buruk itu, akibat kita kurang bersedekah. Agama saya, Islam mengajakarkan, “Kita boleh kehilangan apa saja, asal jangan kita kehilangan ALLAH dan iman kita kepadaNYA”.

Mengucapkan “Alhamdulillah” atas kejadian palaing buruk sekalipun yang menimpa kita, itu lebih baik daripada meratapinya. Selain bersyukur di kala cobaan datang, akan menunjukkan dimana sesungguhnya “maqam” keimanan kita. Karena meratap pun, tak membuat harta benda kita akan kembali seperti sedia kala.

5. Lebih baik berfikir postif agar bisa mencari rezeki yang lebih baik, untuk bisa beli HP  baru yang lebih baik pula. Aamiin…

6. Segera lakukan pemblokiran nomor telpon di HP yang hilang. Agar tidak dimanfaatkan oleh pelaku, untuk kejahatan kriminal yang lebih buruk. Seperti penipuan atas nama nomor yang ada di HP kita.

Ingat sekali lagi, yang tak boleh hilang hanya ALLAH…!

###

Gusjaw Soelarto_Ghirah70’87

Penulis mantanJurnalis Harian Umum Media Indonesia (1989-1997) |Redaktur Artistik Tabloid C&R dan Tabloid Buletin Sinetron (1999-2001) |Produser program “MK Files” di Makamah Konstitusi (MK) TV, tayang di di TV One 53 episode (2011-2012).