Ayah, You are My Hero!

#Memperintai Hari Ayah | 12 November 2020

BARU saja kita merayakan “Hari Pahlawan” 10 November 2020. Dua hari kemudian, hari ini 12 November 2020, ada sebuah momentum indah sekaligus menggetarkan; “Hari Ayah”.

Buat sebagian besar dari kita, sepertinya menganggap momen ini tak teramat penting. Karena pemerintah pun sepertinya tak membuat acara khusus untuk memperingatinya –mungkin sedang fokus menanggulangi wabah Covid-19. Bahkan, sang ayah pun seakan tak banyak yang menggubrisnya. Mungkin pula, tak ada kepdulian dari sang istri atau anak sekalipun.

Kendati begitu, laman kesayangan “kana hujut hulup” ini, tak ingin melewatkan momentum yang sejatinya harus diberi perhatian. Walau hanya lewat tulisan yang bersahaja ini.

Insyaa Allah pembaca bisa menikmati, terinspirasi dan termotivasi merayakannya, walau secara sederhana dan personal. Untuk kemudian tergugah untuk mengunjungi sang ayahanda, atau sekadar menghubunginya, walau hanya lewat hanphone, atau WA –jika ia masih ada. Jika ayah Anda sudah tiada, maka cukup do’akan beliau khusus di setiap shalat-shalat atau di waktu-waktu ibadah kita.

Jika ayah kita masih bisa dan sempat kita kunjungi hari ini, atau minimal dalam pekan ini, hampiri sosok lelaki tua itu secara perlahan. Sebisa mungkin bawakan ia makanan kesukaanya. Tak perlu banyak-banyak. Secukupnya saja, sekadar untuk memberi perhatian khusus buatnya kali ini saja.

Lalu beri ia kecupan ringan di kening atau di pipi kanan-kirinya. Kemudian bisikan satu kata di telingannya dengan perlahan: “Aku sayang Ayah. You are the best!.

Kemudian nantikan pelukan hangatnya. Pelukan yang selama ini selalu kita rindukan. Selain di momen hari raya atau ulang tahunnya. Disaat kita merasa lemah, lelah, galau, bahkan kala kita tengah terpuruk!

Nikmati degup jantungnya, yang Allah ciptakan “seirama” dengan detak jantung “harmoni kehidupan” kita. Yang selalu mengirim signal bahwa kita selalu ada di hatinya. Walau kadang jarak kita berjauhan. Jauh di mata dekat di kalbu…

***

AYAH bagi kebanyakan orang adalah sosok “pahlawan”. “Super Hero”. Namun tak sedikit pula, yang merasakan sosok Ayah adalah pribadi yang hampir tak pernah dirindukan kehadirannya. Bahkan ia adalah figur seorang laki-laki yang tak pernah secara langsung dapat kita sapa dengan sebutan “AYAH.” Entah karena sebuah perpisahan di dunia atau karena sebuah takdir yang menjadikan kita seorang anak yatim. Baik “yatim” secara biologis, maupun “yatim” dalam konteks sosial.

Jujur, agak sesak dada ini, saat saya menuliskan tentang sosok manusia “istimewa” yang satu ini. Sosok yang bagi saya sendiri, merupakan sosok paling penting dalam kehidupan saya. Figur yang sampai detik ini, ingin rasanya selalu bisa terus bergantung pada dirinya.

Yah, harap maklum.. mungkin karena saya merupakan seorang anak perempuan pertama, cucu pertama dalam sebuah keluarga besar. Karenanya, kepada siapa lagi saya bisa mendongakkan kepala, untuk bisa menatap “mata jernih” seorang laki-laki tegar itu, jika bukan kepada Ayah saya…?!

Mohon, jika pembaca tulisan kolom ini seorang wanita, jangan baperan dahulu. Karena memang fokus kita pada hari ini adalah membicarakan tentang sosok seorang Ayah. Sehingga, jangan berpikiran kita mengesampingkan peran seorang Ibu. Sabar… ada waktunya kita nanti mengulas khusus & spesial tentang sosok yang identik dengan seorang “empu” itu. Yang karenanya, ia layak disebut per-”empu”-an…!

***

Pertanyaannya sekarang: bagaimana sosok ayah di mata pembaca..?!

Jika Anda sulit mendeskripsikannya, saya hanya ingin membantu membimbing perasaan dan pikiran pembaca untuk menganalogikannya. Bukan bermaksud menggurui loh ya…!

Ayah kita sejatinya adalah sebuah “tembok yang amat besar dan kokoh”. Dalam konteks ini, ia bukan sosok yang sombong, arogan, atau sosok yang “membatu”. Kalaupun terkesan demikian, hal itu saya yakin dilakukannya semata untuk menjaga harkat wibawanya sebagai “imam” keluarga. Ini amat penting! Karena ia tak boleh tampak “lemah” di hadapan keluarganya sendiri, apalagi di tengah keluarga besar.

Layaknya sebuah tembok besar, tentu ia tahan banting. Layaknya tembok tebal, ia harus kuat menghadapi berbagai guncangan gempa, bahka badai tsunami sekalipun!

Ayah bagaikan tembok yang mampu membentengi keluarganya dari derasnya hujan, teriknya matahari, atau kencangnya angin puting beliung, yang selalu mengintai keutuhan keluarga.

Ya, itulah sosok ayah yang ideal di mata saya.

Meski lagi-lagi, ia tetaplah manusia biasa. Yang tumbuh fisiknya menuju kepapaan. Yang bertambah usianya menuju kepayahan. Yang kerap membuatnya tampak kuyu, lantaran kelelahan menjalankan fungsi tanggungjawabnya. Ya, hanya tanggungjawabnya besar terhadap keberlangsungan keluarga. Yang membuatnya tampak seolah “tak lekang dan tak lapuk oleh gerusan waktu”.

Memang, tak ada yang abadi di dunia ini. Karena hanya Tuhan (baca: ALLAH SWT.) yang boleh abadi.

Namun kekuatan “Cinta dan Kasih Sayang”-lah yang seolah membuatnya abadi. Yang membuat kita bisa terus merekamnya dalam sebuah memori “kenangan manis”. Ingatan yang membuat kita baru bisa memahami bahasa komunikasinya, yang kala ia ucapkan dahulu, kita benar-benar belum faham maksudnya. Yang ketika saat ini, baru bisa kita fahami “tegurannya”, “nasehatnya”, “petuahnya”, “makiannya”, atau “bentakannya”, yang ternyata sangat menghujam dalam sukma, untuk menjelma sebagai sebuah “karakter genetik seorang anak”.

Karakter “bawaan” itu yang sebenarnya menghantarkan seorang anak berani melangkah memasuki gerbang kedewasaan dan kematangan dalam hidup. Hingga membentuk sebuah karakter di kehidupan. Baik itu pada sisi termulianya atau pada sisi terburuknya –yang secara langsung maupun tidak–, telah terinstalasi pada diri buah hatinya.

Kata kunci “kasih sayang” inilah yang terkadang ter-alpa-kan pada pesan penting kehadiran seorang Ayah. Meski begitu, tak perlu kita berkecil hati, jika kita ditakdirkan tak memiliki atau hanya sekejap merasakan kehadiran sosok Ayah di tengah keluarga.

Tentunya ada sosok perempuan, yang ia adalah Ibu kita. Yang ditakdirkan pula punya “kekuatan peran ganda”, untuk hadir sebagai sosok bunda, sekaligus juga sebagai peran “ayah” yang tetap memperjuangkan kelangsungan hidup keluarga.

***

BAGI para Ayah, jika dirimu sempat membaca tulisan ini, semoga engkau bisa menjadi sosok kepala keluarga yang terbaik, bersahaja, penyabar, penyayang, pengertian, dan yang paling penting: bertanggung jawab!

Terutama bertanggung jawab untuk menghidupi dan memberi pendidikan terbaik pada anak darah-dagingnya. Mungkin sementara, tak perlu kau lihat dahulu sosok pendamping di sampingmu: istri –ibunda kita. Cukup lihatlah sosok diri ini, yang menjadikanmu kerap disapa dengan sebutan terhormat: “Ayah”.

Tak tersentuh kah hati kita untuk bisa selalu bisa membahagiakan mereka? Sosok yang selalu menginginkan kehadiranmu. Bahkan sampai akhir hayatnya.

Saya jadi teringat pesan seorang ulama muda yang dalam tausiyahnya mengingatkan para anak. “Merugilah kita, jika keberadaan kedua orangtua kita atau salah satunya yang masih hidup, mereka tak menjadi ‘jembatan surga’ bagi kita para anak-anaknya,” ujar ulama lulusan Ponpes Gontor ini, yang karena buku tentang “Bab Ilmu” yang dibelikan ayahnya, ia kemudian memilih masuk pesantren, ketimbang meneruskan cita-citanya menjadi pemain bola profesional.

Selamat Hari Ayah…

Dengan pengabdianku padamu di sisa harimu, aku ingin sekali hal itu menjadikanmu “jembatan surga” bagi kita dan seluruh anggota keluarga kita… Aamiin…

Bersyukurlah untuk semua yang tahu dan merasakan betapa indahnya akan sebuah kekuatan besar dari kata yang satu ini : “AYAH”.

Semua anak berhak bahagia. Semua anak berhak mendapatkan kasih sayang darimu, dari siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Terima kasih, Ayahku… You are my hero…!

***

Penulis: Amira Nay 70_05 | Editor: Gusjaw Soelarto 70_87