SIAPAKAH kita tanpa jasa para Pahlawan?
Dan siapakah sosok yang layak disebut Pahlawan?
Hari ini, tepatnya 10 November 2020, kita memperingati Hari Pahlawan. Sejak Presiden Soekarno menetapkan peristiwa bersejarah perlawanan “arek-arek” Suroboyo yang dipimpin Bung Tomo pada 10 November 1945 sebagai “Hari Pahlawan” melalui Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959.
bagi kita, akankah hari ini menjadi hari yang lebih istimewa dibanding hari-hari lainnya? Seberapa penting untuk kita peringati? Atau hanya sebatas kita menjadikannya sebagai sebuah “formalitas seremonial” belaka, seperti hari-hari peringatan lainnya?
Buat apa kita mengucapkan hari pahlawan, jika kita sendiri tak paham akan makna historis dan filosofis dibalik peristiwa heroik itu?
Dan sadarkah kita bahwa sejatinya diri kita sendiri ini adalah “pahlawan”, minimal buat jiwa dan raga titipan Tuhan ini? Bahkan juga “pahlawan” buat keluarga dan orang-orang terdekat kita?
Sudahi segala pertanyaan itu. Takkan cukup milyaran huruf dan lembaran halaman di sosmed ini, untuk menghentikan antrian pertanyaan yang bertebaran di dalam isi kepala kita.
Lantas bagaimana seharusnya kita mensikapi sebuah momen “hari peringatan”? Khususnya Hari Pahlawan ini.
Berjiwalah Pahlawan

Ya! Paling tidak menjadi pahlawan dalam keluarga, tetangga, lingkungan, atau paling sederhana buat kekasih hati sekalipun.
Tentu sangat luas makna dari arti sebuah kata “Pahlawan”.
Tak usah jauh-jauh dahulu untuk kita membicarakan tentang apa definisi dan bagaimana bisa menjadi Pahlawan Bangsa. Kita fokus saja dahulu pada diri kita dan lingkungan kita. Sudahkah kita layak menjadi pribadi yang berjiwa pahlawan?
Secara fisik, di era milenial di Tanah Air ini, untuk menjadi seorang pahlawan, tak harus kita pergi berperang. Karena kita tidak sedang dalam situasi perang dan bukan lagi dalam zona pertempuran melawan penjajah. Apalagi sampai kita ingin berdarah-darah dan tersungkur di medan pertempuran.
Oh, sudah jelas… Bagi yang memilih jalan seperti itu, tentunya layak disebut Pahlawan. Jika pada waktu dan situasi yang tepat. Tapi sekali lagi, kalau bisa, tidak usah sampai jauh-jauh kesana mencari tempat untuk ikut berperang.
Alangkah baiknya, kita lihat saja dahulu yang ada di depan mata kita. Di depan kaca cermin kita berkaca; sudahkah kita melihat sosok “pahlawan” itu?
Catat: setiap kita adalah pahlawan! Bahkan sejak kita mulai bakal terbentuk menjadi embrio. Adalah sperma dari Ayahanda kita itu pahlawannya”. Ia telah berjuang untuk bersaing dengan jutaan calon pahlawan lainnya, untuk memenangi “pelombaan renang” di dalam Rahim Ibunda kita –sang pahlawan sejati hidup kita.
Lalu “Sang Pahlawan cairan hina” itu sampai menyentuh garis finish. Ketika ia berhasil membus dinding sel telur Ibunda kita untuk dibuahi, sampai menjelma menjadi mahluk hidup baru: calon pahlawan baru!
Karena itulah, sebelum kita menjadi manusia sempurna. Sebelum kita lahir ke dunia ini. Bahkan sebelum raga ini mulai membentuk. Kita sudah memiliki “karakter genetik/bawaan” jiwa seorang “Pahlawan”. Jiwa yang pantang menyerah. Jiwa yang bermental baja untuk menang. Untuk bisa bertahan di alam dunia kehidupan ini.
Lalu apakah setelah kita hidup, kita lupa bahwa Tuhan telah menitipkan kita sebuah kehidupan dengan segala dinamikanya, untuk terus kita perjuangkan?! Layaknya seorang pahlawan yang berjuang di medan peperangan, untuk berjuang mengalahkan karakter-karakter buruk; sifat-sifat negatit; dan perilaku-perilaku maksiat, yang selalu akan “membunuh jiwa kepahlawanan” dalam diri kita itu.
Kelak hingga ajal menjemput, kita akan terus “berperang bak Pahlawan” untuk bisa terus bertahan hidup. Berjuang menggapai suatu cita, dan tak gentar menghadapi segala ujian yang pasti akan menghadang. Karena sejatinya, hidup adalah sebuah “pertarungan” yang harus selalu kita menangkan untuk membela “kebenaran”, bukan “pembenaran”.
Semangat terus kawan. Semangat untuk terus melakukan kebaikan.
Semangat untuk terus menjadi “pahlawan”, yang terus berjuang bukan untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk orang-orang di sekeliling kita.
Tetaplah semangat untuk selalu kokoh dalam kebenaran. Membela yang benar, bukan yang bayar… #ups…!
Dan yang tak kalah penting, semangatlah terus untuk mau bersatu, dan mempersatukan. Karena kepahlawanan kita, sejatinya tidak dinilai pada hasil akhirnya. Tetapi dari proses kegigihan perjuangan itu sendiri. Pun pada sisi mana kita berpijak dan berpihak; di jalan “kebenaran” atau di jalan “pembenaran”!
***
Kita semua punya masalah. Karena hidup sesungguhnya juga adalah petualangan dari satu masalah ke masalah lainnya. Jika kita ingin tak pernah punya masalah, maka jangan pernah ingin merasa hidup. Dan jangan pernah bercita-cita menjadi “Pahlawan” kehidupan.
Lantaran karena persoalanlah, kita menjadi hidup. Bukan karena hidup kita, yang menjadi perdoalan kita sendiri.
Dan ciri-ciri seorang “pahlawan” itu, dalam do’anya ia tak pernah meminta kepada Tuhannya agar “diringankan beban persoalan hidupnya”. Namun ia selalu berdo’a agar “dikuatkan pundaknya untuk mampu dan kuat menanggung beban hidup yang harus dipikul”.
Selamat Hari Pahlawan Sahabat.
Selamat berjuang menjadi Pahlawan Sejati…!
***
Penulis: Amira.Nay 70_2005 | Editor Gusjaw 70_87
