Ungkapan Hati Ina Ferolina | Istri alm. Otto Murdianto 70_88
Editor Gusjaw Soelarto GAB 70_87 | Pemred alumnisma70.com

TAK pernah terbayangkan sebelumnya. Suamiku tercinta Otto Murdianto 70_88, yang telah menemani perjalanan hidupku selama 18 tahun ini, terasa begitu cepat meninggalkanku.
Baru saja lima menit sebelumnya ia menghubungiku via whatsapp (WA), lalu handphone (HP)-nya tak lagi bisa kuhubungi. Beberapa kali telponku tak diangkatnya. Terasa ada yang janggal. Yang tak pernah kualami sebelumnya.
Aku tak menyerah. Hingga tak lama kemudian, panggilanku lewat HP akhirnya bersambut juga. Namun ada kejanggalan baru yang kudapat. Ternyata suara yang menyahut panggilanku, bukan suara suamiku!
Melainkan suara orang lain, yang tak pernah kukenal sebelumnya. Dan yang paling mengejutlan, suara “lelaki asing” itu malah mengabarkan bahwa Mas Otto, suamiku tercinta mengalami kecelakaan: “Maaf bu… Suami ibu kecelakaan. Jangan panik dan segera ke GBK”.

Seketika aku shock. Sedih sangat rasanya, bila terngiang kata-kata itu. Apalagi, sesampai di GBK, aku mendapati mobil Mas Otto rusak parah akibat menghantam pagar pembatas GBK. Dan kusaksikan sendiri tubuh Mas Otto dalam keadaan sudah tak bernyawa.
Hingga kini, aku belum percaya benar, bahwa Mas Otto rahimahullah, lelaki santun yang menikahiku di Jakarta, 3 Agustus 2003, ternyata telah menghadap ALLAH swt.
Subhanallah… Kini aku hanya bisa berdo’a, agar ia tenang di alam kuburnya. Dan dimudahkan jalan ke SurgaNYA, bersamaku kelak. Pahala dari bacaan surah Yasin, hampir tak putus-putus ku-”hadiahkan” di setiap malam-malamku belakangan ini tanpa Mas Otto kini.
Aku masih ingat betul, bercakapanku terakhir dengan Mas Otto, sebelum musibah tragis itu terjadi. Ia sempat mengeluh tentang dadanya yang terasa sakit, selepas bersepeda sore itu di seputaran GBK.
Bila teringat hal itu, jujur aku merasa menyesal. Mengapa aku tak menemaninya ikut gowes sepeda bersamanya di hari Minggu itu…

Padahal, meski aku dan Mas Otto bukan tipe orang yang “romantik”, tetapi rumah tangga kami yang qadarullah belum dikarunai seorang anak, yang kerap membuat kami selalu ingin kemana-mana berdua. Layaknya, pasangan yang masih berpacaran.
Yah… mungkin inilah –yang kini sedang terus kucoba untuk meyakininya– apa yang disebut dengan TAKDIR ALLAH?
Sebab, kedatangan sebuah takdir, tak pernah menunggu undangan. Juga tak pernah peduli; apakah kita sudah siap atau belum dalam menerima kehadiranya. Seperti yang kualami saat ini….
Tinggal satu hal yang sedang terus-menerus kumantapkan dalam imanku; bahwa “apapun yang datangnya dari Allah, itulah keputusan yang terbaik dariNYA!”
Walau… aku harus kehilangan orang terbaik yang pernah kukenal –selain kedua orangtuaku sendiri. Sosok yang sangat bertanggungjawab; yang sangat bisa kuandalkan; yang amat care; yang mau dan bisa mencintaiku apa adanya…
Dan yang paling penting; sosok yang bisa menghiburku di saat menghadapi masa-masa sulit … Yang kini, sosok itu sudah tak ada lagi disisiku. Tak ada lagi dada bidang, tempat kubersandar. Tempatku menumpahkan air mata kesedihanku, dikala mengalami masa sulit seperti ini.
***

LIMA menit sebelum aku kehilangan kontak dengan Mas Otto, memang suamiku –yang kerap kusapa dengan panggilan “Say”– itu, sudah mengeluh tentang dadanya yang terasa sakit setelah bersepeda. Di Sabtu sore. Yang kala itu, sayangnya aku tak sempat menemaninya menggowes sepeda keliling Stadion GBK.
Sejak munculnya pandemik Covid-19, kami berdua memang punya hobi baru menggowes sepeda. Meski, Mas Otto lebih suka berolahraga dibanding aku.
Selain sering menggowes dengan beberapa sahabat dekatnya hingga puluhan kilo meter di kala week end atau hari libur, Mas Otto rahiimahullah, kadang suka bersepeda sendiri, atau bersama teman-teman seangkatan di SMA 70_88.
Sebenarnya, di Sabtu pagi, 30 Januari 2021 itu, almarhum sempat berjanji dengan beberapa teman kami, untuk gowes bareng. Tetapi itu urung kami lakukan, lantaran Mas Otto mengeluhkan perutnya yang kurang bersahabat, akibat diare.
Namun siang harinya, rasa sakit di bagian lambungnya itu sudah mormal kembali. Itulah yang membuat Mas Otto memutuskan untuk bersepeda sendiri ke kawasan GBK dan HI menjelang sore.

Namun, setelah gowes dari GBK ke HI (pergi-pulang), suamiku langsung menelpon untuk mengeluhkan rasa sakit di bagian dadanya. Namun, tak lama kemudian sakitnya hilang. Ia pun menutup telponnya dan melanjutkan chating di grup gowes dengan beberapa teman.
Teman-teman kami, sempat menyarankan agar Mas Otto untuk segera periksa ke RS terdekat. Juga ditawarkan untuk dijemput atau naik taxi.
Namun, saran dan tawaran itu ditolaknya. Ia merasa sudah lebih baikan. Setelah rasa sakit di dadanya dan semutan di tangannya hilang, Mas Otto pun chat akan segera on the way (otw) pulang. Lima menit kemudian, telpon dari ku sudah tidak diangkatnya.
Itulah chat terakhirku dengan Mas Otto, lelaki yang telah meminangku 18 tahun lalu. Setelah kami berkenalan lewat tetanggaku, teman kuliah Mas Otto.
Aku lupa, hari, tanggal, bulan, dan tahun berapa, pertama kali “lelaki pemberani” ini mulai bertandang ke rumahku. Dan mulai berani mengajakku jalan-jalan, yang akhirnya membuat kami merasa cocok satu sama lain, dan kemudian ia meminangku.

Jujur, aku mau menerima kehadiran Mas Otto rahimahullah, ketika melamarku, karena menurutku ia lelaki yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Tentunya untuk kujadikan imam keluarga, yang sangat sayang padaku.
Setelah menikah, awalnya kami tinggal di rumah Mamaku. Pada 2005, kami baru bisa membangun rumah di Jl. Bendi, Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Dan di 2006, kami baru menempatinya rumah yang hingga kejadian tragis itu terjadi, kami huni bersama untuk membangun mahligai rumah tangga yang amat bagahia.
Kita berdua, memang sama bukan orang yang romantik. Namun semuanya telah kami jalani dengan enjoy, tanpa beban, saling mengisi, serta saling melengkapi dan menyayangi.
Memang, dengan sepeninggalnya Mas Otto rahimahullah, masih banyak rencana-rencana yang belum bisa terwujud. Salah satunya, kami telah merencanakan untuk menikmati hari tua bersama-sama, dengan tetap menjaga kualitas hidup.

Alhamdulillah kami berdua telah ber-umroh. Sayang, ibadah haji yang telah kami rencanakan, kini seolah sirna. Namun aku berharap, semoga Allah telah mencatat niat mulia kami untuk berkunjung ke Baitullah.
Sebelum pandemi, biasanya kami dengan beberapa sahabat liburan bersama. Sejak Covid, kami hanya bisa gowes bersama. Setelah Covid, rencananya tahun depan kami ingin Umroh dan jalan-jalan pesiar bersama lagi.
Kini, di tengah kesendirianku selepas “kepergian” Mas Otto, aku hanya bisa mendo’akan agar rahimahullah, dilapangkan dan diterangi alam kuburnya, serta kelak tenang dan damai berada di sisi Allah subhanallahu wata’ala.

Dan Aku pun, kini sedang menata diri. Memperbaiki ibadah-ibadahku. Memperindah imanku. Juga yang tak kalah penting, aku berusaha menjadi lebih matang dan mantap, untuk meyakini bahwa “aku boleh kehilangan siapa saja dalam hidupku, asal jangan kehilangan ALLAH”. Insya Allah. Aamiin…
***
FOTO DOK. PRIBADI OTTO 7-_88
