Laporan Gusjaw Soelarto GAB 70_87 | Pemred alumnisma70.com
[Jakarta – alumnisms70.com]: Pada Senin, 1 Februari 2021, Almamater SMA 70 Bulungan-Jakarta mencatat sebuah kabar dukacita yang hampir bersamaan. Dua orang baik alumnus 70ini, telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam waktu yang nyaris berbarengan.

Mereka yang telah “berpulang” itu, Imron Kurnadi bin Parkijan 70_91, dalam usia 49 tahun, pada pukul 18:39 WIB. Disusul enam menit kemudian, pada pukul 18:45 WIB, Hendrawan Anggakusuma alias Dondon 70_84, pun ikut “menghadap” Sang Khalik.
Menurut Richmond Sparatis 70_91, Imron rahimahullah yang dilahirkan 18 Mei 1972, meninggala dunia karena telah lama mengidap maag akut. Dan telah dimakamkan pada Selasa, 2 Januari 2021, di TPU Bungur, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Sementara Dondon 70-84 rahimahullah, yang wafat dalam usia 56 tahun, sejak pertengahan Januari 2021 telah terpapar Covid-19. Dan sudah dimakamkan di hari yang sama di TPU Jombang, Rawalele, Tangerang Selatan.
Menurut Menik, istri Dondon rahimahullah, sejak 16 Januari 2021, suaminya telah dirawat intensif di RS Medika BSD, Tangerang Selatan, hingga 22 Januari 2021.
“Karena kondisi Mas Dondon belum juga membaik, pada pkl. 16:00 WIB (22/1/’21), kemudian dipindah ke RSPI Sulianti Suroso, Jakarta, hingga akhir hayatnya,” tutur Menik.
Imron alias Mimin 70_91

Menurut sahabat rahimahullah, M. Wilman Pramajaya 70_91, Imron yang dikenal teman-teman seangkatannya dengan panggilan akrab Mimin, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Sementara keseharian Mimin belakangan ini, ujar Wilman, yaitu mengelola warung makan bersama istrinya di sebuah sekolah menengah atas (SMA). “Sambil terkadang, Mimin nge-Grabdriver. Ini dilakukan Mimin setelah pensiun dini dari sebuah perusahaan swasta,” jelasnya.
Wilman adalah teman sekelas Imron rahimahullah, saat di Kelas I-15. “Imron yang lulusan SMP 19-88, anaknya baik, periang, helpfull, dan murah senyum,” kenangnya.
Tentang sapaan “Mimin” buat rahimahullah, ungkap Wilman, itu merupakan panggilan “sayang” teman-teman kelas I-15, buat Imran.
Nama kesayangan itu, jelas Wilman, diambil dari nama tokoh popular dalam serial komik Mimin, seorang anak Afrika yang berkulit hitam. “Karena banyak kesamaan antara Imron dan Mimin, yang berkarakter jujur, polos, gemar menolong, mudah senyum, dan sederhana,” tambahnya.
Dalam pergaulan, lanjut Wilman, Imron alias Mimin, tidak pernah pilih-pilih teman. “Yang menonjol dari Mimin, adalah pribadinya yang ringan tangan, karena gemar membantu orang lain yang membutuhkan,” katanya lagi.
Hendrawan alias Dondon 70_84

Sementara Hendrawan rahimahullah yang akrab disapa Dondon oleh teman seangkatannya, meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan seorang cucu.
Ketiga anaknya, Hafilyansya N. Anggadukusuma (27 tahun), Filza Syazita Anggadikusuma (23 tahun), dan Fildansyah Anggadikusuma (19 tahun). Sedangkan cucu pertamanya bernama Quilla Zemma Anggasukusuma (1,5 tahun).
Menik yang telah menemani Dondon rahimahullah selama 28 tahun pernikahan, mengaku tak mendapat firasat apa-apa dari suaminya, sebelum wafat. “Tidak ada firasat sama sekali. Dan kami tidak menyangka akan secepat ini ditinggal pergi untuk selamanya,” tuturnya.

Menurut Menik, rahimahullah yang lahir 20 Juni 1965, adalah sosok kepala keluarga yang sangat sayang pada keluarga. Terutama pada cucu pertamanya yang cantik itu.
“Almarhum tak pernah marah, karena sifat penyabarnya. Jika ada masalah, benar-benar tenang dalam menyelesaikannya,” kenangnya.
Selain itu, lanjut Menik, “Mas Dondon juga taat beribadah, dan gemar bercanda. Tingkahnya selalu membuat orang tertawa, itu yang membuatnya, sebagai pribadi yang menyenangkan,” tambahnya
Di akhir hayatnya, ungkap Menik, rahimahullah hanya bercita-cita ingin melihat anak-anak yang telah mereka besarkan, bisa sukses dunia-akhirat. “Serta ingin momong cucu di hari tuanya,” tandasnya.

***
Foto-foto Dok. Pribadi Kel. Imron 70_91 | Dok. Pribadi Kel. Hendrawan 70_84
