Catatan “Perjuangan Hidup” Roro 70_82: Selama 22 Hari di RS Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran

Catatan Ronaldy “roro” Samuel 70_82  | Editor Gusjaw Soelarto GAB 70_87  

GEDUNG RS KHUSUS COVID-19 WISMA ATLET KEMAYORAN
Rumas Sakit yang disiapkan Pemprov DKi Jakarta ini, sebagai sararana untuk isolasi sekaligus perawatan intensif para penyintas Covid-19.

PENGALAMAN hidup sebagai penyintas Covid-19, tentu bukan sesuatu yang mudah untuk gue. Musibah yang nggak pernah gue harapkan sejak isu pandemik mulai mewabah di Tanah Air itu, akhirnya “singgah” juga di tubuh gue. 

Pada awalnya gue cuma aalami gangguan batuk, sejak 2 Januari 2021. Dua hari kemudian (4/1/’21)  gue putuskan untuk tes Antigen, yang hasilnya POSITIF. Jujur, batin gue nggak siap menerima keputusan ini.

Sehingga, gue membuntuhkan second opinion untuk menguatkan diagnosa medik tersebut. Kemudian gue kembali melakukan PCR.  Yang ternyata, hasil laboratorium –yang keluar pada 5/1/’21– tetap menyatakan gue POSITIP terpapar Covid-19, dengan CT 15. Artinya, dengan pembesaran Microscope 15 Kali saja, virus Covid-nya sudah terlihat jelas, saking banyaknya.

Nggak bisa lagi mengelak dari keputusan medik tersebut, pada 6/1/’21 pagi, gue masuk sebagai salah satu pasien dari 3.600an pasien Covid-19 di RS Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Tepatnya, gue diisolasi di Tower #5, yang setiap hari diwajibkan minum obat anti virus dan vitamin peningkat stamina tubuh.

Aktivitas gue selama delapan hari pertama, cuma melakukan olah raga rutin jalan sehat di pagi hari, senam, berjemur, lalu cek tensi darah dan saturasi kadar kandungan oksigen di daerah gue.

Salah satu yang membuat gue Bahagia –selain tetap mendapat dukungan semangat dari keluarga–, juga mendapat support dari teman-telam almamater SMA 70 Bulungan. Bahkan di luar dugaan, pada 13 Januari 2021, teman-teman alumni 70 yang berprofesi dan punya hobi sebagai DJ, sampai membuat even live streaming  “GET WELL SOON RORO” untuk menghibur sekaligus mendo’akan kesembuhan gue.

Jujur gue Bahagia banget… Nah kebahagiaan yang gue dapat ini, sangat penting untuk mempercepat proses kesembuhan gue. Karena gue nggak boleh stress dan terlalu banyak pikiran, yang bisa melemahkan daya imunitas dalam tubuh gue.

Di hari ke-8 itu, hasil tes PCR masih menunjukan bahwa gue belum terbebas dari Covid-19. Namun tes saturasi gue, menunjukkan tanda-tanda membaik dengan satuan ukuran CT 25.

Karena CT gue masih dibawah 30, kemudian gue dipindakan ke Tower #6 RS Wisma Atlet Kemayoran, dengan treatment obat yang harus gue konsumsi, diganti Avigan. Yang harus dikonsumsi sebanyak 52 butir selama 7 hari.

Saat di Tower #6 ini, mental gue sempat drop. Lantaran sempat mengalami alergi, dimana wajah –terutama di sekitar mata- menjadi bengkak. Sebagai solusinya, gue harus mendapat suntikan anti-alergi.

ALERGI OBAT: Mata gue sempet bengkah karena alergi terhadap obat yang gue konsumsi.

Di Tower #6, pengawasan kesehatan lebih ketat. Karena ada fasiltas poli di lantai tempat gue menjalani isolasi.

Puji Tuhan… Setelah 7 hari dirawat intensif di Tower #6, gue menjalani tes PCR lagi. Dengan hasil saturasi meningkat mencapai CT 35.

Dengan hasil itu, gue sudah diperbolehkan pulang. Untuk melanjutkan isolasi di rumah saja, lantaran sudah dianggap aman. Namun, karena CT gue belum naik menjadi 40 –dimana dengan pembesaran microscope 40 kali virusanya sudah tak terlihat–, maka gue menolak untuk “dipulangkan”.

Tapi aku menolak pulang! Gue merasa belum tuntas benar pemulihannya. Gue pengen CT gue,  meningkat lagi sampai benar-benar bisa mendekati batas normal. Gue pun kembali mengisi form untuk bisa tetap isolasi di RS Wisma Atlet Kemayoran.

Hari-hari berikutnya, gue tetap rutin melakukan olahraga dan berjemur. Namun hanya sebatas di teras Tower #6 saja. Nggak boleh ke  lapangan seperti sebelumnya, untuk menghindari kontak langsung dengan pasien  yang masih ber-CT rendah.

“NYUNTIK NaCl”: Salah satu terapi dengan menyemprotkan cairan NaCL ke rongga hidung, untuk membersihkan kerak-kerak visrsu Corona

Terapi berikutnya, gue pun diberi cairan NaCl utk disemprotkan ke bagian kehidung, agar bersih dari kerak-kerak virus Corona.

Di hari ke-6 fase kedua perpanjangan waktu isolasi , gue PCR lagi. Dengan hasil lebih menggembirakan hati dan menaikkan mental keyakinan gue. Karena aku sudh dinyatakan NEGATIF COVID-19.

Keesokan harinya, tepatnya di hari ke-22 (28/1/’21), masa isolasi gue di RS Wisma Atlet Kemayoran dinyatakan susah selesai. Yang berarti gue sudah diperbolehkan pulang. Dan kali ini gue menerima anjuran itu.

Puji Tuhan… Gue akhirnya kembali bisa kembali ke rumah idaman gue, bersama keluarga tercinta. Dan sampai saat ini (2/1/’21), sudah sepekan gue masih menjalani isolasi di rumah. Agar benar-benar bersih dari Covid-19.

ORANG TERBAIK: Perawat-perawat Medik inilah yang telah menjadi orang terbaik yang telah membantu kesembuhan gue dari Covid-19

Hikmah yang gue dapat dari musibah ini, membuat gue sadar bahwa kita harus benar-benar patuh pada protokol kesehatan, jika sedang berada di area publik di luar rumah. Karena sangat riskan, kita semua bisa terpapar Covid-19 dari Orang Tanpa Gejala (OTG).

Sebagai pencegahan, kita wajib mengkonsumsi vitamin, penguat stamina tubuh. Juga jangan lupa ber-olahraga atau berjemur dan cukup beristirahat.

Karena pandemik Covid-19 ini, telah mengajarkan kita untuk benar-benar menjaga kesehatan diri dan orang di sekitar kita.

***