Sosok yang Selalu Peduli Pada Sesama Almamater 70
Laporan Gusjaw Soelarto GAB 70_87 | Pemred alumnisma70.com

[Jakarta – alumnisma70.com]: Innalillahi wainnailaihi raaji’uun. Akhirnya kabar duka cita yang tak kita harapkan –namun yang ALLAH inginkan, akhirnya datang juga.
Almamater SMA 70 Bulungan-Jakarta, kembali kehilangan sahabat alumnus terbaik dari angakatan “Sahabat Bulungan 70_92”, Mustofa Syarif bin KH. Arsyad, dalam usia 48 tahun, yang akrab disapa Ope Arsyad.
Sepekan yang lalu, tepatnya Selasa, 18 Januari 2021, alumnisma70.com baru saja menurunkan berita, tentang almarhum yang sempat dirawat di ICU RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat, setelah terdiagnosa Covid-19.

Nata Diredja 70_92, rekan dekat almarhum yang akrab disapa Nata, mengabarkan Ope menghembuskan nafas yang terakhir sekitar pkl. 09.30 WIB.
Sore harinya, Pkl. 15:00 WIB, Nata bersama rekan-rekan seangkatannya, ikut mengiringi dan mengartarkan “ikon persahabatan & keceriaan 70_92” ini, dari rumah sakit menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Alumnus kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1973 ini, dikemubumikan sekitar pkl. 15:30 WIB dengan tata cara protokol Covid-19 di TPU Dwijaya IV, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka yang ikut menyaksikan pemakaman dari dekat, selain keluarga besar, istri tercinta Reni, dan ketiga anak almarhum Vanya, Luna & Vier, serta teman-teman seangkatan dan lintas angkatan 70.
Antara lain Ipul, Nata, Arie “Tenyom”, Donna, Joni “Nguik”, Tasnaim, Tatu, Reni Grossa, Yogaz, Daniel, Irawan, Ucup Yopie, Nike, Tanto “Babeh”, Osler, Hera, dan lainnya.

Bahkan, hingga pemakaman selesai dan keluarga telah kembali ke rumah duka, beberapa rekan almarhum masih ada yang datang langsung ke pusaranya.
Ini menandakan, bahwa sosok almarhum yang sangat ramah, kocak, dan peduli pada sesama ini, memang pribadi yang bersahaja, serta disenangi hampir seluruh rekan seangkatan, juga kerabat sesama almamater SMA 70.

“Semoga kebaikan ente bakal menggaung di ‘keabadian’,” tulis rekan almarhum Singgih Sujiatmoko 70_92, dalam status di Facebook Group Alumni SMA 70 Jakarta (25/1/’21).
”Semoga dihapus semua dosa ente, dimaafkan semua kesalahan ente, ruh ente bakal kembali ke ‘kaki arasy Allah yang Agung’. Selamat jalan kawan…Insyaa Allah husnul khotimah. Aamiin…,” lanjut status itu.
Status yang senada juga ditulis “senior” almarhum, Khrisna Bharata Singawinata 70_90; “Selamat Jalan Sahabat… Adik kelas, yang Kehadirannya selalu membawa keceriaan.”

Dan yang tak kalah”senior”, Ari Chober Military 70_86, juga merasa ikut kehilangan sosok alm. Ope yang pernah sama-sama aktif di Alumni Bulungan Football Club (A-BFC) 70.
Chober yang sempat mengajak almarhum untuk ikut sebagai salah satu pendiri Perkumpulan Alumni SMA 70 (PAS 70) Bulungan-Jakarta, mengenalnya sebagai pribadi yang mandiri, pekerja keras, dan tak mau bergantung pada orang lain.
“Alm. Ope selalu bekerja dan berusaha sesuai dengan isi hatinya,” kenang Chober. Yang sangat terkesan dengan jiwa down to earth dari “kana iwateb” (anak Betawi) yang educated, dan cukup sukses merintis usaha Event Organizer (EO).
“Jujur, sebagai ‘senior’ gue merasa kehilangan sosok ‘yunior’ seperti almarhum. Sangat menghargai yang lebih tua, peduli pada teman sebaya, dan peduli pada yang muda,” tandas Chober.
Ia mengetahui, alm. Ope, punya kepedulian dan solidaritas yang tinggi sesama Almamater 70. Lantaran almarhum kerap mengkaryakan teman-teman sesama alumni 70, bila ada proyek EO yang ditanganinya.

Tentang jiwa kepedulian sosial almarhum, dibenarkan Nata sebagai salah satu teman karib almarhum. ”Gue pernah ikut kerja bersama Ope, ketika alamrhum baru mulai belajar bikin EO di tahun 90an,” ungkapnya.
“Kalau sekarang, gue lebih mengurusi internal perusahaan almarhum, daripada ikut menggarap even,” tambahnya.
“Kalau sekarang, gue lebih mengurusi internal perusahaan almarhum, daripada ikut menggarap even,” tambahnya.
Menutut Nata, beberapa proyek yang pernah dikerjakan almarhum, antara lain, jelas Nata, di even Famous’92 (Family of Our Seventy 1992), yang menggabungkan beberapa activation, seperti basket ball, dan Biru Muda Indoor Soccer, Reuni 70 _92 pada 2010 & 2017. Juga even 70’92 Bazaar Online pada September & Oktober 2020 untuk mendukung promosi UMKM milik Alumni-70, terutama usaha kuliner & fashion.
Seraya menambahkan, belakangan ini, sebelum muncul pandemi Covid-19, almarhum secara rutin mengerjalan proyek EO di Pertamina, PLN, Indonesia Power, Bank Mandiri, BNI, CIMB Niaga, Hanna Bank, dan perusahaan besar lainnya.
Nata memaparkan, almarhum yang dikenal “kocak” ini, sebagai salah satu sahabat yang paling dekat sejak 1989.

“Gue nggak pernah berhenti main sama dia. Hingga saat almarhum dirawat karena Covid-19, gue masih berhunungan secara virtual,” tuturnya, yang ikut mendiskusikan pendirian dan pengembangan usaha VLV Projects & event management.
Bagi Nata, terlalu banyak kenangan yang amat menyenangkan selama bersahabat sekitar 30 tahun bersama almarhum. Selain, alm. Ope, rutin nyantunin mengajak rekan-rekan dan partner bisnisnya untuk sama-sama menyantuni anak yatim-piatu.
Nata pernah sekelas dengan alm. Ope, ketika di Kelas 1-9 (1989-1990). Juga satu tongkrongan di teras Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan (GRJS), yang dikenal dengan “Komunitas Ubin Merah”, sejak 1992 hingga almarhum dinyatakan “positif Covid-19”.

Intinya, tegas Ipoel 70_92–salah satu soulmate almarhum selain Nata, Ope itu orang baik dan “pejuang beneran”. Lantaran ia tahu perjuangannya. Mulai dari awal membangun usaha, dagang, hingga menggarap event.
“Kalo berdagang, Ope tuh pake hati. Warna sedekah dalam bisnisnya kental banget. Sedekahnya bukan main kalo sama orang yang membutuhkan,” tandas Nata.
Idealismenya dalam membangun usaha agar bisa membantu orang banyak, ungkapnya lagi, membuat almarhum berani memutuskan untuk keluar dari kantor tempatnya bekerja.
***

Tentang jiwa humornya, yang kerap “dirindukan” banyak orang, Nata menyebut, “almarhum memang kocak dari lahir” lantaran lawakannya orisinil dan “liar luar-biasa”.
“Kalo dia yang ngomong aja, kita bisa terbahak semua. Tapi kalo kita ngomong hal yang sama –yang diceritakan almarhum–, pasti biasa-biasa aja. Nggak bikin orang tertawa,” jelasnya.
Hal itu, lanjut Nata, karena almarhum, “meski ‘lemah’ berbahasa Inggris, tetapi demen nyebut istilah dalam bahasa Inggris, hanya buat bahan lawakan.”
Tentang “kekocakan” sosok alm. Ope, juga dibenarkan rekan-rekan di grup WASMAN70 Class of 92.
“Di grup ini, komen-komen Ope meski tak seaktif yang lain, tetapi komennya lebih sering bikin ngakak dan menghibur banget,” tulis Harti Suharti.

“Bakalan kangen banget deh,” ujar Thursina
Dikit tapi pas,” timpal Donna.
“Iya, Ope jarang komen, tetapi kalo pas komen, aselik lucuk dan pas,” sambung Harti.
“It will be missed. Canda-candaannya Ope, ceritanya adaa aja. Menghibur banget,” tambah Carmel.
“Yes menghibur dan selalu apik berkelas. Dia ga usah ngelawak, ngomong biasa aja gue bisa ketawa. Ga sombong lagi. He’s the best. Beneran…,”sambung Nina Silvanti.
“Dan tetap humble,” lanjut Donna.
Nggak pernah kelebihan,” tulis Carmel.
“Iya, gue seneng baca komen-komen Ope dan status FB-nya. Sering menghibur banget. Banyak dapet istilah-istilah baru, yang ringan dan kadang nggak kepikiran sama gue,” timpal Donna lagi.
“Sedihhh,” tulis Yogas.

Jiwa kepedulian sosial almarhum juga “terekam” di grup WA ini;
“Ope berhasil sendiri. Tapi pas berhasil, inget temen-temen. Selalu berusaha kasih platform supaya temen-temen bisa ikutan kolaborasi,” ungkap Donna lagi.
“Pernah awal kali sekitar tahun lalu bincang telpon, tentang cara bantu teman-teman alumni 70_92. Ope memang layak sebagai Sahabat Terbaik kita semua,” sambut Arif Pongki.
“Kenangan Ope ada di sticker Cooking Mamels. Saking almarhum selalu peduli sama temen. Sering WA kasih masukan bisnis. Ngarahin positioning, sampe gue ‘dipaksa’ Ope buat edit sticker gue. Merinding ini pas nempelin sticker 😭😭😭,” kenang Carmel, salah seorang rekan terbaik almarhum.
***

PEJUANG itu telah menyelesaikan tugasnya, tutur Doddy 70_92.
“Tidak ada kata kalah dan menyerah. Hanya ada satu kata ‘MENANG’… Sebagai Syuhada,” tegas aktivis Kamsis 70 ini memberi spirit.
“Selamat jalan Cank Ope 🙏❤ Semoga semangat persahabatan dan persaudaraan di antara kita abadi selamanya👍,” ujar Ucup, insiator Bulungan Post 70_92.
Melacak jejak digital di FB almahum, alumnisma70.com menemukan spirit hidup yang lebih hakiki lagi. Ia sejatinya “Pejuang Silaturrahim” dan “Toleransi” sesama almamater 70. Yang kala itu, sedang almarhum “pertanyakan” dalam statusnya.
Simak status almarhum di Grup FB Alumni SMA 70 Jakarta, yang ia tulis sekitar 10 bulan sebelum ajal “mencandainya”. Yang banyak mendapat respon baik dari alumnus di “grup resmi” Reuni Akbar Alumni SMA 70 berikut ini;

Sahabat…
Selamat jalan dalam keceriaanmu di “Jalan Keabadian”
Untuk menjumpai “Yang Maha Luas” canda dan keceriaannya
Meski karenanya…
Kita tak bisa “berkisah lagi tentang hidup” di dunia
Kita tak bisa lagi “menanam bibi-bibit cinta yang kita punya”
“Walau di atas tanah yang sudah mandul sekalipun”
Seperti yang pernah engkau cita-citakan
Semoga harapan dan spiritmu
Menjadi “warisan” terindah bagi kami
Yang selalu engkau impikan
Tetapi kami yang masih bisa merasakannya
Insyaa Allah
Aamiin…

“Sang Pejuang 70-92”.
***
Foto-foto Dok. Pribadi Alm. Ope | Dok. Nata Diredja | Dok. Alumnus 70_92 | Alumnus 70_92 | ISTIMEWA
