Devi Indah Kartika 70_89: ‘Perempuan Tangguh’ dari Panggung Politik ke Dunia Bulutangkis

Laporan Gusjaw Soelarto | Pemred alumnisma70.com

Devi Indah Kartika, SH 70_89

PAGI HARI. Sebuah pesan singkat “hinggap” di Whatsapp Redaksi alumnisma70.com. Tertulis sebuah nama perempuan, yang mengirim pesan:

Assalamu’alaikum.

Besok jadi interview?

Jam 15:00 WIB bisa?

Di Resto Malayang, Driving Golf Cilandak KKO.”

KEESOKAN HARI. Pesan singkat dari nama yang sama kembali masuk:

Mohon maaf.

nanti pertemuannya mundur ke 15:30 WIB yaaa…

Saya mau shalat Ashar dulu di rumah Jakagarsa.

Baru menuju lokasi”.

Betapa sejuknya mendapat pesan singkat seperti itu. Dari seorang perempuan yang lebih mendahulukan perjumpaan seorang hamba dengan TUHANnya. Ketimbang dengan sesama mahlukNYA.

Dan sulit rasanya, untuk tidak menyetujui permintaan itu. Maka kami pun bertemu di titik lokasi yang telah dijanjikan. Meski penulis, justru yang terlambat hadir.

Iya, tidak apa-apa.

Saya pesan makan duluan kalau begitu…

Itulah kalimat balasan yang diterima, ketika alumnisma70.com memohon maaf atas keterlambatan beranjak dari Kantor Redaksi di Kawasan Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan. Lantaran ada satu naskah “berita duka” yang baru selesai ditulis, untuk segera diturunkan.

***

SEMATA WAYANG: Bersama putra tunggalnya, Muhammad Haryodi Rafi (22 Tahun)

SORE. RESTO MALAYANG. Begitu tertulis jelas, sebuah nama resto di sebelah kiri pintu masuk Driving Golf Cilandak KKO, Jakarta Selatan.

Setelah bertanya pada seorang petugas resto di depan pintu masuk. Penulis pun menghampiri seorang perempuan berhijab orange, yang berada di sebuah meja, di teras resto.

Ia tengah asyik menyantap menu makahan yang telah dipesannya tadi. Seorang pria berpostur gempal, menemaninya makan. Tepat di hadapannya.

Setelah menyapa, kami pun berkenalan. Karena memang, penulisbaru kali ini mengenal sosok perempuan cantik, alumnus SMA 70_89. Dua tahun lebih muda kelulusannya dari SMA 70.

“Saya kurang terkenal loh di angkatan saya di SMA 70,” katanya merendah, mengawali perkenalan, sambil mempersilahkan penulis memesan makanan.

Usai menyantap makanan, kami pun baru memulai perbincangan sore itu. “Ngobrolnya nggak lama kan…? Soalnya, sudah janji jam 17:00 WIB mau antar anak periksa gigi,” ujar perempuan yang bernama Devi Indah Kartika, SH.

Ternyata, yang menemaninya sore itu, adalah putra tunggalnya, Muhammad Haryodi Rafi, kelahiran Jakarta, 28 Oktober 1998.

Alumnisma70.com memilih Devi –begitu ia biasa disapa–, sebagai profile kali ini, lantaran mendapat info dari Dessy Pardede 70_89. Teman seangkatannya, yang aktif di Panitia Reuni Akbar 40th SMA 70.

DEVI BERSAMA PENGURUS PBSI

Bahwa perempuan kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1969 ini, ternyata telah terpilih dua kali dalam kepengurusan organisasi Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI).

Yakni, pada periode 2016 – 2020, semasa dipimpin Jend. (purn) Wiranto. Dan pada periode 2020 – 2024, yang kali ini dipimpin Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna.

Putri kedua dari tiga bersaudara –satu-satunya perempuan– dari pasangan alm. Bambang Pratiknyo, berdarah Jawa dan almh. Emma Magdalena, asal Lampung ini–, mengaku tak langsung memutuskan untuk melanjutkan kuliah selepas dari SMA 70 Bulungan.

“Setelah 1989 lulus dari SMA 70, saya memutuskan langsung bekerja. Karena saya memang ‘mata duitan’,” ungkapnya jujur. Pengakuan ini tentu mengejutkan penulis.

‘Mata duitan’…! Maksudnya…?

“MATA DUITAN” : Ia mengaku ‘mata duitan’ dengan lekas bekerjas selepas SMA, karena ingin cepat berbagi untuk orang banyak.

Ternyata, penjelasan lanjutan “ibu tunggal” ini cukup melegakan. “Ya, saya ‘mata duitan’, karena ingin cepat bisa membantu banyak orang. Tentunya, dengan uang yang saya dapat, dari hasil bekerja,” tutur Devi, tersenyum manis.

Sambil bekerja, lulusan SD & SMP Tarakanita I (1977 – 1986) ini, pada 1991-1993, baru mulai kuliah di Akademi Bahasa Asing (ABA). Lalu pada 2010, melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum, UPN Veteran Jakarta,angkatan XI.

Sepak terjang “perempuan tangguh” di dunia organisasi kemasyarakat maupun organisasi plolitik pun –selain di PBSI–, ternyata tak perlu diragukan lagi. Yang menandakan, pendiri Komunitas Moms Hijabini, sangat luwes dan cerdas dalam bergaul.

***

JIKA Almamater 70 sudah memiliki “perempuan super” bernama Sari Sundari Kencana Ayu 70_82.Yang telah dipercaya menjabat di kepengurusan sebuah organisasi olahraga nasional, juga anggota partai politik, kini seolah Devi-lah yang telah meneruskan budaya itu.

Bila Sari –yang Ketum Panitia Reuni Akbar 40th SMA 70—kini menjabat Sekjen Persatuan Senam Indonesia (PERSANI), Devi pun mendapat kepercayaan untuk kali keduanya sebagai Ketua Bidang Informasi & Tekhnologi (IT) PBSI.

Jika Sari pernah menjadi Calon Lesilatif (Caleg) di dua partai politik; Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Sementara Devi, pernah duduk di kursi DPRD Banten Fraksi Hanura (2014-2019), mewakili konstituennya dari Daereh Pemilihan Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

 “Saya bisa duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Banten, karena rezeki dari Allah. Karena saat kampanye 2014, saya tidak satu pun memasang baliho atau spanduk, seperti layaknya politisi-politisi lainnya,” ujar Devi, mantan Wakil Bendara Umum Hanura (2009-2014) & Wakil Sekjend Hanura (2014-2017).

“Saya lebih memilih kegiatan kunjungan langsung ke rumah-rumah yatim-piatu dan dhuafa, serta majelis-majelis ta’lim di kampung-kampung di Kawasan Tangerang Selatan,” ungkapnya.

Karenanya, Pengurus Bidang Antar Lembaga Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI/2020-2025) ini sangat yakin, bisa jadi anggota dewan, berkat do’a anak-anak yatim dan dhuafa, juga ibu-ibu majelis ta’lim yang disambanginya di masa kampanye.

Jika kini,  Sari telah merasa “kapok” terjun ke dunia politik,  tetapi Devi hanya ingin “rehat” sejenak. Khususnya sejak 2017, saat muncul konflik kepemimpinan di tubuh partai Hanura.

Sehingga, jabatan Wasekjend di partai pimpinan Jend. (purn) Wiranto itu, hanya dijalaninya selama tiga tahun, sejak 2014.

Dan kini, Wakil Ketua Bidang Organisasi Perempuan Jenggala ini, memilih aktif sebagai Sekjend di Majlis Taklim Baitus Sholihin (MTBS/2020 – 2025), binaan Ketua MPR Bambang Soesatyo.

FEBRUARI 2021 DILANTIK: Kedekatannya dengan Jend (putn) Wiranto di Hanura, yang menghantarkan Devi dipercaya Ketua Bidang IT-PBSI. Kini tengah menunggu pelantikan periode keduanya, di bawah kendali Ketum PBSI baru, Ketua BPK Firman Sampurna (2020-2024).

Tentang jabatan keduanya sebagai Ketua Bidang IT PBSI, menurut Devi, tentu tak terelepas dari pengalamannya yang pernah bekerja di salah satu perusahaan IT terbesar di Indonesia.

“Saya memang bukan ahli IT, karena basic pendidikan saya Ilmu Hukum. Namun, sebelum jadi anggota dewan, saya banyak terlibat di pekerjaan IT,” jelasnya.

Tentu, juga tak terlepas dari kedekatannya dengan Jend (purn.) Wiranto di Partai Hanura, yang kala itu juga menjabat Ketua PBSI (2016-2020). Dengan langsung mempercayainya untuk mengepalai Bidang IT PBSI.

“Alhamdulillah, di kepengurusan PBSI yang saat ini diketuai Agung Firman Sampurna, saya diminta kembali menangani Bidang IT,” tutur Devi, yang masih menunggu pelantikannya pada Februari mendatang, lantaran tertunda akibat wabah Covid-19.

Terobosan yang akan dilakukannya di periode kedua jabatannya ini, ia akan membuat “ruang media” dengan super screen, agar pelatih dan atlit Pelatnas bisa melakukan riset terhadap “kekuatan lawan”.

“Saya juga akan meng-upgrade infrastruktur IT Pelatnas PBSI di Cipayung,” tambah Devi.

***

MENUNGGU ‘LAMARAN’: Insyaa Allah di 2022, mulai mau “menerima lamaran” dari tiga partai besar di Tanah Air.

Tentang kenangannya sebagai alumnus SMA 70, Devi mengaku pernah aktif di ekskul Basket, Paduan Suara, Vokal Grup, dan Persada Karya Cipta (PKC).

Dari pengalaman berorganisasi semasa di sekolah itu lah, yang membuatnya tak canggung lagi dalam bersosialisasi dengan banyak kalangan dan lapisan masyarakat.

“Ini pula yang membuat saya bangga sebagai ‘Anak 70 Bulungan’. Sebagai salah satu sekolah favorit, yang membuat saya percaya diri dalam bersosialisasi dengan banyak orang,” ungkap Devi, yang saat ini belum mamu bergabung ke partai politik mana pun.

“Saya tinggal menunggu lamaran saja,” katanya.

Wow… Memang sudah ada niatan akan mantu atau ingin… ehemmm…

“Maksudnya, saya tinggal menunggu ‘lamaran’ dari partai politik lain,” papar Devi menegaskan makna “lamaran” itu, agar tak ada yang salah faham.

WAGUB BANTEN: Sebagai Anggota Dewan Provinsi Banten yang rajin terjun langsung ke masyarakat, membuat Devi harus dekat dengan “pemilik daerah”, seperti Wagub Banten H. Andika Hazrumy, S.Sos., M.A.P. Agar keluhan rakyat bisa langsung disampaikan, di luar birokrasi resmi.

Insya Allah di tahun 2022, tambahnya, “saya baru mau memutuskan untuk berlabuh lagi di sebuah partai politik. Syukur-syukur, ada salah satu dari tiga partai besar, yang akan meminang saya”.

Senja semakin larut. Dan penjelasan Devi itu, seolah menjadi penutup “kencan” kami sepanjang 55 menit, di sore yang sejuk itu.

Setelah pamit, sambil melepas senyum sumringah-nya, Ia berjalan anggun menuju kendaraan pribadinya. Hendak mengantar “sang Jagoan” semata wayangnya, berkonsultasi ke dokter gigi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Ayunkan langkahmu sejauh keyakinanmu wahai “Perempuan Tangguh”…

Berdirilah tegak… Teriakkan “kalimat sakti” yang telah membesarkan kita: “Saya, Gaya, Jaya…!”

Karena “Saya”-mu adalah KITA

Karena “Gaya”-mu, juga GAYA KITA

Dan “Jaya”-mu adalah JAYA KITA

ALMAMATER SMA 70 BULUNGAN-JAKARTA.

***