#InMemoriamUwel70_89 #Basis70_89
“Kepergian” Sosok Komandan Buser yang Menginspirasi
ALAM adalah pertanda. Langit mendung diselingi gerimis dan hujan sepanjang bulan November hingga pekan keempat Desember ini, bak sebuah “isyarat kedukaan” bagi Almamater SMA 70 Bulungan.
Ya, isyarat atas “kepergian” sahabat-sahabat terbaik Alumnus SMA 70 Bulungan. Setidaknya, redaksi alumnisma70.com mencatat ada enam alumnus yang telah wafat dalam dua minggu terakhir di pekan ketiga dan keempat Desember 2020.

Salah satunya yang meninggalkan kesan mendalam, adalah “berpulangnya” Anumerta Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Waluyo Tri Atmojo bin H. Marsidi. Yang telah “memenuhi panggilan Sang Khalik” pada Selasa, 22 Desember 2020, Pkl. 05.43 WIB dini hari di RS. Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan. Kabar meninggalnya “Anak Basis 70_89” yang akrab disapa Wel ini, cukup mengejutkan rekan-rekan seangkatan almarhum sesama Alumnus SMA 70.
Pasalnya, di hari yang sama, alumnus angkatan 70_89, juga baru saja mendapat kabar duka atas wafatnya rekan Herwandi bin Sukrisman 70_89 alias Andi Betong. Almarhum menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 21 Desember 2020, Pkl. 16:30 WIB, akibat serangan jantung.
Jika Andi Bentong dimakamkan 22 Desember 2020, Pkl. 09:30 WIB di Blok 16-TPU Tanah Kusir, Jakarta Barat, almarhum Wel dimakamkan sore hari di hari yang sama, dengan dilepas “kepergiannya” secara upacara militer, di Pemakaman Wakaf Bungur, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Anumerta Wel, yang sejak 1997 berdinas sebagai Komandan Buser (Buru Sergap) di kesatuan tugas Polsek Cilandak, Jakarta Selatan, meninggalkan seorang istri tercinta, Riska Kusrini (39 tahun), yang dinikahinya di Jakarta pada 15 Januari 2001. Dari pernikahannya hampir 20 tahun itu, mereka dikaruniai dua orang putri, Dinda Deswita Choirunnisa (19 tahun) dan Andara Felma Febriana (11 tahun).
Polisi karir yang sebelumnya juga bertugas sebagai anggota reserse Polres Jakarta Selatan ini, dikenal Riska sejak ia masih sangat belia, di usia 15 tahun. Wanita kelahiran Jakarta, 29 November 1981 ini, bertama kali berjumpa, ketika Wel baru meniti karir sebagai seorang polisi.
“Saya pertama kali kenal bapaknya anak-anak, di rumah salah satu teman dekat. Dan empat tahun kemudian, di usia 19 tahun, kami menikah,” tuturnya. Saat itu Wel berusia 31 tahun.
Di awal perjumpaan hingga bertaut kebahagiaan di kursi pelaminan, Riska melihat Wel adalah sosok lelaki dewasa yang punya pemikiran matang. Dan, “beliau di mata saya saat itu, adalah pria sederhana yang tidak neko-neko,” kenang Riska ekslusif kepada alumnisma70.com.

Hidup bersama pria kelahiran Jakarta, 28 April 1970, yang lulus Pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN) Hinai Polda Sumut, Kab. Langkat, Sumatra Utara, pada 1993 ini, Riska merasa sangat bahagia. Meski ia harus selalu siap siaga menerima resiko apapun, sebagai istri seorang abdi negara.
“Termasuk, saat beliau menjalankan tugas kedinasan sebagai Komandan Buser, saya merasa sudah kehilangan banyak waktu untuk bisa selalu bersama-sama suami,” ungkap Riska lirih.
Sebagai seorang polisi, menurut Riska, mendiang suaminya memang tipe polisi yang tegas dan serius. Karena ketegasan dan keseriusannya itu, “beliau jadi terkesan kurang romantis, hehehe…”
Ketegasan sekaligus keseriusan almarhum Wel sebagai pemimpin sebuah tim taktis, dibenarkan salah satu anggota Tim Busernya, Bripka (Pol) Rian Adikia. Menurutnya, Bang Wel –begitu panggilan akrab sesama rekan sekerja–, merupakan pimpinan yang sangat serius dan tegas jika akan menjalankan tugas.

Junior almarhum kelahiran Jakarta, 21 Okt 1981 ini, mengungkapkan, pimpinan sekaligus rekan dekatnya itu, tidak bisa diajak bercanda, jika sedang mempersiapkan tim tugas buser-nya. “Jika kita bercanda saat mau penangkapan, Tak segan Bang Wel menegur kita yang junior dan diminta kembali fokus. Selesai tugas, justru dia yang suka memulai candaan,” ujar Bripka Ryan.
Kendati begitu, jelas Siska lagi, Bang Wel termasuk suami yang kerap bercerita kepada sang isteri, seusai menjalankan tugas sebagai Buser. Yang terkadang, membuat suaminya terpaksa harus meninggalkan istri dan anak-anaknya hingga behari-hari.
“Suatu ketika, beliau cerita kalau baru saja memburu pelaku pembunuhan sampai ke atas gunung di luar Jawa. Saat pelaku perampokkan dan pembunuhan itu berhasil ditangkap, ternyata istri pelaku sedang hamil tua,” kenang Riska, yang kerap miris mendengar cerita-cerita “dramatis” semacam itu.

Dengan begitu beratnya menjalani tugas sebagai seorang polisi, Wel yang hingga wafatnya belum dikaruniai anak lelaki, menurut ibu dua orang putri ini, tak ingin kedua putrinya itu meneruskan profesinya sebagai Polisi Wanita (Polwan). “Beliau nggak mau anaknya jadi Polwan. Karena tugasnya terlalu berat untuk seorang perempuan,” kenang Riska.
Melalui berbagai cerita heroik maupun dramatik dari sosok “pahlawannya” itu, anak sulung almarhum, Dinda –yang sangat bangga dengan figur ayahnya–, mengaku banyak peristiwa yang dikisahkan ayahnya, mampu membentuk dan merubah pola pikirnya. “Cerita-cerita ayah, banyak mengubah pola pikir saya sebagai orang awam,” ungkap Dinda.
Putri keduanya pun, yang akrab disapa Dara, mengaku selalu bahagia jika bisa menyambut kepulangan ayahnya selepas bertugas. Ia sangat bahagia memiliki figur ayah seorang polisi yang tegas dan baik. Apalagi bila sudah mendengar cerita-cerita ayahnya selepas menjalani tugasnya sebagai anggota reserse. “Saya bahagia,” tambah Dara yang masih duduk di kelas 6 SD.

Saat disinggung tentang firasat yang mungkin muncul, sebelum penggemar berita-berita politik itu “berpulang”, sang istri mengaku tak merasakan firasat apa-apa. Mungkin, “karena sakitnya sudah menahun, jadi saya dan anak-anak tidak dapat firasat apa-apa,” tutur Riska.
Yang didapatnya, justru “pesan terakhir” dari almarhum, yang berwasiat, jika sepeninggalnya kelak, agar anak-anak dijaga dengan baik. “Sambil memberi tahu tentang hal-hal yang harus diurusnya,” papar Riska.
Sedangkan Dinda, mendapat “wasiat terakhir” dari ayahnya, berupa nasehat agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan baik. “Juga fokus pada pekerjaan,” kisah si sulung yang justru baru resign dari pekerjaan, lantaran kantornya terlalu jauh dari kediamannya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Sementara Bripka Ryan, yang mengenal Bang Wel sejak masih berdinas di Polres Jakarta Selatan, hingga ikut menyusul ke Polsek Cilandak, mengaku banyak bisa mengambil pelajaran berharga dari seniornya itu.
Secara profesional sebagai polisi, “Bang Wel di Tim Buser terkenal sebagai ‘motor’ kita. Ia tipe komandan pemikir, jago interogasi, berfeeling kuat terhadap target, ngemong terhadap junior, tegas serta galak, namun dewasa dan bisa untuk dijadikan teman curhat yang baik,” kenang Ryan yang lebih muda usia 11 tahun dari almarhum.
Secara pribadi, sebagai sesama rekan kerja, Bripka Ryan juga banyak mendapat nasehat dari Bang Wel. Diantaranya, walau sesibuk apapun dalam tugas di lapangan, yang sering membuatnya jarang pulang, tetapi harus di-nomorsatu-kan berkomunikasi dengan keluarga di rumah.
Selain itu, tambahnya, “Jangan pernah ada sedikitpun keraguan dalam menjalanka tugas negara. Ini takdir kita. Allah sudah gariskan kita menjadi polisi. Sehingga, berbagai resiko jangan menjadi halangan. Yang penting, niat baik lilahi ta’ala. Serahkan semuanya kepada Allah,” ungkap Ryan menirukan nasehat spiritual Bang Wel.
***

Kepedulian “Kana Sisab 70_89”
TENTANG penyakit diabetes yang dirasakan suaminya dalam empat tahun belakangan, Riska memaparkan, kondisi kesehatan almarhum memang semakin memburuk ketika penyakit “gula”-nya mulai berdampak pada fungsi ginjalnya. “Persisnya, sejak tiga tahun terakhir ini, beliau harus melakukan cuci darah,” jelasnya.
Dan mulai di tahun 2017 –lantaran penyakitnya tersebut–, yang membuat Bang Wel tak lagi bisa menjalankan tugasnya secara sempurna, sebagai komandan satuan reserse di Polsek Cilandak. Karena ada luka di kaki almarhum yang semakin membengkak. Bahkan sempat dioperasi pembersihan pada luka di telapak kaki kanannya.
Mengenai kondisi penyakit di kakinya yang mulai menjadi kendala buat almarhum dalam menjalankan tugas, dibenarkan Bripka Ryan. Menurutnya, kepercayaan diri Bang Wel mulai berkurang semenjak kakinya terasa sakit dan tidak kuat dipakai berjalan lama. “Terlebih lagi, semenjak ia tahu mengidap penyakit ginjal. Pembawaannya berubah drastis. Bang Wel jadi pendiam,” paparnya.

Almarhum pun pernah curhat pada yuniornya ini, terkait masalah kakinya yang mulai terasa sakit. Bang Wel suka merasa tidak enak hati dengan sesama rekan-rekannya di Tim Buser. Karena sudah tidak bisa mem-back up secara maksimal di lapangan saat ada penugasan operasi penangkapan tersangka.
“Tetapi demi tugas, Bang Wel tetap suka memaksakan diri untuk ikut operasi lapangan. Meski hanya bisa berada di dalam mobil untuk mengatur strategi saja,” papar Bripka Ryan.
Sahabat dekat Wel sesama “Kana Sisab” (Anak Basis) 70_89, Tony Getek, membenarkan kondisi rekannya yang mulai sakit-sakitan sejak tiga tahun lalu. Ketika mulai dirawat di RS. Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Getek mengikuti terus perkembangan penyakit almarhum, karena selain ia sangat akrab selama belajar di SMA 70, juga kediamannya di Komplek P & K Cilandak, Jakarta Selatan, berdekatan dengan Polsek Cilandak, tempat Wel berdinas.
“Gue deket banget sama almarhum, sebagai sesama anak Basis. Kantornya pun deket banget sama rumah gue. Cuma 50 meter dari Polsek Cilandak,” ungkapnya.
Karenanya, lanjut Getek, selama Wel sakit dan memaksanya harus rutin menjalani cuci darah, ia bersama rekan-rekan sesama almamater Basis 70_89, pernah beberapa kali menjenguk ke RS Polri Kramatjati, maupun ke kediamannya.

Menurut pengamatannya, sejak sekitar dua tahun terakhir, kondisi kesehatan Wel memang semakin memburuk, yang ditandai dengan keharusan menjalani cuci darah. Minimal dua atau tiga kali dalam sepekannya.
Ketika Getek sempat mendampingi almarhum untuk rutin cuci darah, Wel yang anggota “militan” Basis 70_89 ini, sempat curhat kepadanya. “Gue udah capek nih Tek.. Setiap habis cuci darah, tenggorokan gue terasa panas banget. Tapi badan gue tearasa enteng, karena cairan darah lamanya keluar,” tutur Getek menirukan curhatan soulmade-nya itu.
Meski masih bersedih atas “kepergian” sahabat terbaiknya di angkatan 70_89 itu, namun Getek tetap bisa bersyukur karena kepedulian sahabat-sahabatnya sesama “anak tongkrongan Basis” yang masih solid. Khususnya dalam membantu atau menunjukkan kepedulian serta solidaritas terhadap Wel dan keluarga, selama dirawat.

Salah satunya, Brigjen Pol. Budi Indra Darmawan, teman almarhum sesama “isilop” yang lulus Akademi kepolisian (Akpol 1992). Menurut Getek, ”sang jenderal” itu yang paling banyak membantu.
“Terakhir, temen kita yang jenderal tersebut, yang ikut membantu almarhum dipindahkan dari RS Polri Kramatjati ke RS Sari Asih Ciputat,” ungkap Getek.
Tentang kesan pribadinya yang mendalam terhadap Wel, karyawan di sebuah perusahaan kontraktor ini, mengakui kebaikan sahabatnya yang dianggap “ikon gank Basis 70” ini. “Almarhum orang baik. Kalau diminta pertolongan, semasa sekolah maupun setelah jadi Polisi, nggak pernah berkata tidak. Jujur, gue sedih banget atas kepergian temen gue yang satu ini,” aku Getek pilu.
Kebaikan dan kesetiakawanan Wel, kenangnya, tidak pernah ia ragukan. “Waktu halokes (sekolah, red) dia setia kawan banget. Kalau tubir (ribut/tawuran) sama metes (siswa STM), dia paling depan sama gue. Makanya anak-anak Basis banyak yang nggak nyangka, kalau dia bisa jadi isilop (polisi),” kisahnya terkekeh.

Namun, kenang Getek lagi, setelah bertugas sebagai polisi, sikap pribadinya tidak berubah, tetap bersahaja dan mudah menolong teman. Namun sikap profesioanlnya berubah drastis. “Dia sempet bilang, tugas gue disatuan Serse sekarang menumpas penjahat. Nggak kayak dulu, tukang tubir,” ungkapnya menirukan ucapan almarhum.
Getek pun teringat peristiwa kocak semasa Wel masih jadi “anak tongkrongan Basis 70_89”. “Maaf banget… 🙏 🙏 🙏 Karena akum almarhum tergolong rangas, anak-anak basis bilang, lambang Basis pake wajahnya Wel aja,” tuturnya sambil tersenyum.
Ketika almarhum baru berdinas di Polsek Cilandak, tambah Getek, Wel selalu peduli padanya, dengan selalu menanyakan tetang kabar keamanan lingkungan di sekitar rumahnya, yang tak jauh dari Polsek Cilandak. “Bagaimana Tek, rumah lo aman kan? Tenang aja, gue selamanya akan mengabdi di Polsek Cilandak. Karenanya gue nggak pengen jadi Jenderal,” seloroh almarhum kepadanya.
Mengenai pilihannya dari “anak tawuran” menjadi “abdi negara”, Wel pernah bercerita, karena diminta kakaknya yang seorang Kopasus, untuk Sekolah Polisi di Kab. Langkat, Sumatera Utara. “Dari SMA akumnya udah rangas. Pas jadi Isilop, tambah rangas igal, hehehe…” seloroh Getek.

Sementara itu, kakak ipar Wel, Bowie Sandinista 70_92 –yang secara kelulusan di SMA 70 usianya lebih muda, punya kesan tersendiri terhadap almarhum. Menurut suami dari kakak kandung Wel ini, almarhum hingga menjelang akhir hayatnya, masih sangat bersemangat saat menceritakan kenangan indahnya semasa sekolah di SMA 70 Bulungan.
Beberapa hari sebelum meninggal, Bowie sempat menjenguk adik iparnya itu di RS Polri Kramatjati. Dan Wel pun, sempat cerita banyak soal angkatannya, Basis 70_89. Sementara ia angkatan Sandinista 70_92.
“Wel sangat senang dan bersemangat sekali saat diajak ngobrol tentang ‘anak tongkrongan’ semasa sekolah di SMA 70. Hatinya yang galau karena penyakit yang diderita, seketika itu sirna,” ungkap Bowie yang sangat menghormati adik iparnya ini.
Selamat jalan sahabat… Selamat menjalanlan “Tugas Baru”-mu…

Semangatmu menceritakan tugas kedinasanmu kepada keluarga. Semangatmu berkisah tentang keceriaan masa remajamu bersama rekan-rekan seangkatan. Dan semangatmu dalam menjaga profesionalisme saat menjalankan tugas negara… Telah membangun semangat kami, sahabat-sahabatmu sesama almamater 70 Bulungan. Untuk mencatat dengan “tinta emas” tentang kebanggaan kita semua, bahwa kita pernah lahir dan ada di dunia, bersama nama besar SMA 70 Bulungan… Saya, Gaya, Jaya…!
***
Note:
“Rekening Duka” an Waluyo Tri Atmojo Bank BRI No. rek.: 0420-01-011125-50-4
Penulis Gusjaw Soelarto, Pemred alumnisma70.com
Foto Dok. Keluarga alm. Waluyo Tri Atmojo 70_89 | Dok. Tony Getek | Dok. Basis 70_89
