Hadiah Terindah Buat Ibunda dari Anak Lelaki 70_87 & 70_82

#HariIbu2020 #Ibuadalahempu

Do’a, Hadiah Terindah Buat Ibunda

Oleh Gusjaw Soelarto 70_87

IBU

Buku yang habis kau baca,

Kini mulai ku baca,

Baru halaman pertama

***

BAIT puisi pendek karya Rik A. Sakri, alumnus Ex. SMA 9_77 ini, menggambarkan tentang peran sosok perempuan mulia yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Puisi ini, tentunya sangat mewakili perasaan dan pengalaman kita.

Bagi kita, yang mayoritas kini telah punya pengalaman membangun rumah tangga. Mungkin juga ada yang baru mulai membentuk sebuah keluarga. Pun ada yang telah memiliki sejumlah cucu dari anak-anaknya. Bahkan telah dikaruniai beberapa cicit dari cucu-cucunya.

Begitu kuatnya pilihan diksi dari puisi naratif ini –yang terkesan sederhana namun “dalam”–, tak heran jika mendiang Teguh Karya pun, ikut “kepincut” dengan karya sastra “anak bulungan” ini.

Yang membuat maestro sutradara teater & film Indonesia peraih puluhan Piala Citra ini, kemudian pada 1985 mengangkat “ruh” dalam puisi tersebut, ke dalam cerita layar lebar berjudul “Ibunda”. Tak sia-sia, dari 11 nominasi kategori penilaian yang diunggulkan, akhirnya 9 Piala Citra diraih film ini pada Festival Film Indonesia (FFI) 1986.

IBUNDA: Searah jarum jam: Teguh Karya saat menerima Piala Citra di FFI 1986, lewat film “Bunda”. Poster film Ibunda yang dibintangi Tuti Indramalaon, Alex Komamg & Ayu Azhari. Sosok mendiang Teguh Karya, sang maestro fim & teater Indonesia. Rik A. Sakri (alumnus Ex. SMA 9_77), pencipta puisi “Ibu” yang menginspirasi Teguh Karya melahirkan film “Ibunfa”.

Lewat puisi Rik A. Sakri –sutradara Teater Aquila yang aktif di GRJS Bulungan–, Teguh Karya ingin “meminjam” sebuah “pengakuan”. Bahwa seberapapun pengalaman kita telah memainkan peran sebagai ibu –juga ayah (baca: orangtua)–, namun nyokap, bunda, mami, emak, umi kita, tetaplah sebagai per-empu-an yang paling “senior” dalam menjalani perannya sebagai seorang “empu”. Saat mengandung, menyusui, membesarkan, serta mendidik anak-anaknya.

Ketika kita telah memiliki anak –cucu buat ibu kita–, tetaplah ibuda kita yang lebih dulu merasakan “lelah, cemas, mules, perih, sakit, sekaligus bahagia” saat melahirkan kita. Intinya, apa pun yang telah kita rasakan, tentang “pahit-getirnya” dalam membentuk dan membangun keluarga, ibunda kitalah yang lebih dulu menjalani dan merasakannya.

Siapa pun kita, entah apa pun status sosial-ekonomi–budaya-politik yang kita sandang saat ini, kita tetaplah hanya seorang “yunior” atau “pemula” di mata Ibu kita. Kita tetap masih dianggap “anak bau kencur” di hadapannya. Jangan pernah membantah argumen ini!

Bisa-bisa, kata orang Betawi, “Elo jangan songong sama emak loh… Dikutuk jadi batu kayak si Malin Kundang, baru nyaho’ loh…!”

Lantaran dalam bait puisinya –jika kita ingin ”mentadabburi” (menyelami makna terdalam)–, Rik A. Sakri seakan memberi penegasan, bahwa Buku (segala referensi, ilmu, juga pengalaman) yang habis kau baca (yang telah selesai ditapaki dan dijalani ibu kita), kini mulai ku baca (baru kita pelajari dan jalani), tetapi baru halaman pertama (masih sebatas sebagai pemula/yunior/”anak bawang”/”anak bau kencur”).

***

Pertanyaannya kemudian, pada peringatan “Hari Ibu” 22 Desember 2020 ini, seberapa pedulikah kita dengan momentum itu? Apa arti sosok seorang Ibu bagi kehidupan kita? Adakah sebuah pemberian yang sedang kita persiapkan buatnya? Jika ada salah & khilaf, permohonan maaf apa yang ingin kita sampaikan kepadanya?

Pertanyaan yang sempat dilontarkan dalam sebuah status di FBG Alumni SMA 70 Jakarta sepekan lalu ini, ternyata hanya direspon sedikit netizen, yang notabene adalah alumnus SMA 70 Bulungan-Jakarta.

Mungkin pertanyaan seputar Hari Ibu ini, tidak terlalu penting di mata netizen, di tengah persoalan pelik wabah Covid-19, yang belum jua mereda dari Tanah Air. Atau mungkin juga, pertanyaannya terlalu “melow”. Sehingga cukup dijawab hanya di dalam hati, direnungi dalam jiwa, dan diwujudkan dalam tindakan, tepat pada Mothers Day hari ini.

“Baru baca pertanyaan aja, udah mewek… gimana nulis jawaban,” komentar Dhyni Muliari 70_93.

Karena memang pertanyaan yang dilontarkan, bukan sekadar harus dijawab dengan kata, kalimat atau sekadar retorika. Namun membutuhkan sebuah action atau perbuatan nyata kepada Ibu kita. Baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Yang menjawab cukup serius, justru seorang ayah empat orang anak, Necky Effendy 70_87. Dan kalaupun masih ada alumnus 70 lain yang ikut berkomentar, justru merasa sudah terwakili oleh argumentasi Necky, dengan menyetujui jawaban tersebut.

Aktivis Kajian Islam Ghirah 70 Lintas Angakatan yang mengaku momentum Hari Ibu “tak terlalu punya arti” baginya –dan tak peduli pula pada latar belakang penetapan tanggalnya pada 22 Desember– itu, justru merasa, sebaiknya setiap hari-hari kita adalah “Hari Ibu”.

“Bagi gue, setiap hela nafas kita sebaiknya untuk selalu mengingat ibu kita. Apalagi sebagai anak lelaki,” ungkap Necky.

Penulis mencoba “memahami makna terdalam” penegasan dari salah seorang sahabat terbaik di angkatan GAB 70_87 ini. Bahwa sejatinya, dalam memuliakan dan menghormati ibu kita, tak hanya sebatas pada sebuah rutinitas “seremonial” setahun sekali saja.

Necky “Juniors”: Dua cucu perempuan dan dua cucu lelaki, hadiah terindah Necky buat sang Ibunda tercinta

Namun hendaknya, menjadi semacam momen “ritual yang sakral”, se-“sakral” tarikan dan hebusan, bahkan dorongan nafas ibu kita, saat hendak mengeluarkan kita dari dalam Rahim sucinya. Yang hentakan detik per detik “ritual sakral” itu, adalah sebuah “pertaruhan nyawa”. Bagi si jabang bayi, sekaligus baginya. Kita dan Ibu kita…

Sehingga tak ada alasan bagi kita, hanya akan peduli pada Ibu kita, setahun sekali. Karena sosok tua renta itu, telah memikirkan kita selama 24 jam penuh. Tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap pagi, tiap siang, tiap sore, tiap malam, tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun, hingga setua umur kita, ia hadir buat kita, buah hatinya.

Sehingga, sangat beralasan jika bagi mantan anggota Paduan Suara 70 dan KIR 70 ini, sosok Ibu adalah segala-gala baginya. “She’s everything for me…! Terutama apabila gue mengingat pengorbanan buat anak-anaknya. Yang selalu mendahulukan kebutuhan anak-anaknya, dibanding kebutuhan beliau sendiri.” tutur Necky menambahkan.

Tak pelak, bila ada sebuah pemberian yang selalu ia persiapkan buat ibundanya setiap hari –terutama di dalam shalat–, adalah kiriman do’a dan do’a. Karena sang bundanya telah tiada… sejak 20 tahun silam.

Necky: “She’s everything for me…!

“Ya Allah berikan ibunda hambamu… tempat paling indah dan nyaman di Alam barzahnya… Ampuni segala kekhilafan beliau… Lipatgandakan semual amal ibadahnya… Jauhkan siksa kubur baginya…” pinta Necky setiap teringat dan terbayang wajah ibundanya.

Ia berandai-andai, “jika ada time machine di dunia ini, ingin rasanya selalu membuat beliau selalu tersenyum”.

Lantaran, sebagai salah satu anak lelaki di keluarganya, Necky merasa pernah ada khilaf dan salah. Terkadang berbicara dengan nada cenderung meninggi, pada ibundanya. “Tatkala beliau menegur kekhilafan saya… Ampuni aku, ya Allah…!” lirihnya.

Peristiwa yang paling diingatnya, ketika menjelang pernikahan dengan sang pilihan hati. Sang istri, yang kini telah memberi ibundanya dua cucu lelaki dan dua cucu perempuan.

“Awalnya selalu protes di setiap keinginan beliau. Namun alhamdulillah, entah kala itu, ada yang bisa melunakkan hati ini. Hingga akhirnya, bisa membuat beliau tersenyum sepanjang hari,” ungkap lelaki berdarah Minang ini.

Buat penulis, Necky memberi sebuah “catata kaki”: Bro… Terimakasih sudah membuat gue kangen berat sama sosok beliau. Meskipun sudah 20 tahun meninggalkan anak-anaknya.

Sama-sama bro… Semua ungkapan hati lo, juga sudah mewakili perasaan gue ke “emak” gue, yang juga sudah “berpulang” sekitar 15 tahun lalu…

Peluk cium buat semua nyokap, ibu, bunda, mami, emak, umi, di seluruh dunia…

Meminjam bahasa Teguh Karya, wahai para ibu, kalian sebagai per-empu-an, layaknya seorang “empu” yang mampu menempa, membentuk, mengukir, dan mengasah anak-anakmu, bak sebuah keris sakti yang “mandra guna”.

Mengutip status istri sendiri, Tuti Noviani Ridaningsih (Ridha, alumnus SMA 8 Bandung), “Ibu adalah Ratu yang tak bermahkota, namun bertelapak kaki syurga”.

***

Penulis ingin menutup tulisan kolom ini dengan sebuah potongan adegan “melow“, sebuah komunikasi antara seorang anak dengan Maminya. Peristiwanya berlangsung di ruang rapat redaksi alumnisma70.com di Lt. 3 di sebuah ruko di Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kejaidiannya berlangsung saat rapat proyeksi dan evaluasi mingguan, yang kami adakan setiap Sabtu siang, mulai jam 14:00 WIB hingga menjelang Maghrib. Ketika rapat sedang berlangsung, tiba-tiba dering handphone (Hp) berbunyi dan bergetar di atas meja rapat.

Sang empunya Hp –yang saat itu tengah berbicara serius di forum rapat–, langsung melirik ke arah sumber suara. Dan seketika itu pula ia menghentikan arahannya. Setelah melihat sebuah nama muncul di layar Hpnya.

“Sebentar… Maaf, kalo orang yang satu ini udah telpon, gue harus angkat sekarang juga. Gue harus menghentikan semua kegiatan. Gue nggak berani nunda, apapun alasannya… Sorry…,” katanya sambil mengangkat Hp-nya.   

Kemudian langsung ia rendahkan nada suaranya. “Halo… ya Mami… alhamdulillah sehat Mam… Mami juga sehat kan? Alhamdulillah kalo gitu… Ya, dari Fatmawati, nanti aku langsung mampir ke rumah Mami… Mami mau dibeliin apa…? Ya, nanti aku mampir beliin buat Mami?” begitu dialog percakapan mellow itu berlangsung.

“Super Mom”: Ipung Sidharta bersama Ibunda tercinta, yang sudah berusia 86 tahun, namun masih ‘kuat” jadi RW di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Jujur, penulis seketika itu jadi ikut “mendadak mellow”, sambil menahan rembesan air yang tiba-tiba menggenang tipis di kelopak mata, entah darimana sumbernya.

Saat mendengar dialog “mahal” antara seorang anak dan Maminya itu, sontak muncul “rasa cemburu” yang sangat. Jujur ini bukan lebay. Sebab, “dialog mahal” itu, tak mungkin penulis lakukan lagi. Lantaran “Emak” penulis, sudah “berpulang” sekitar 15 tahun yang lalu. Wajahnya tiba-tiba membayang di depan mata.

Ipung Sidharta 70_82. Ya, dialah orangnya. Yang begitu menghormati dan sangat menjunjung tinggi, rasa sayangnya pada ibunda.

“Nyokap gue sekarang umurnya sudah 86 tahun,” ungkapnya. “Tapi dia masih mau aktif jadi Ketua RW di kawasan Kebayoran Baru. Gue sebetulnya nggak tega ngeliat dia masih repot ngurusin lingkungan di sekitar rumahnya. Habis, mau gimana lagi…? Ngelarang dia? Gue nggak berani brow…”

EMPU: ibunda Ipung adalah salah satu contoh sosok per-“Empu”-an yang hebat

Rupanya, Ibunda Ipung tadi, titip makanan buat menyiapkan suguhan rapat yang akan dihadiri Pak Lurah setempat. “Pak Lurah dan aparatnya, paling suka kalau ngadain rapat di rumah Mami gue. Karena makanannya selalu disuguhin yang enak-enak,” tutur anggota Dewan Redaksi alumnisma70.com ini.    

Sungguh, ibunda Ipung adalah salah satu contoh sosok “Empu” yang hebat. “Super Mom” dari seorang anak, yang kini menjadi Pengurus Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan (GAPASDAP).    

***

Penulis, mantan jurnalis Media Indonesia (1989-1997) | Penulis Biografi Sutradara Teguh Karya dalam buku 25 Tahun Populer & Teguh Karya (1993) bersama N. Riantiarno, sastrawan & sutradara Teater Koma. | Pemenang Poster Terbaik I Festival Teater Jakarta 1990, pementasan Teater Aquila “Jas Buka Iket Blankon” karya Noorca M. Massardi, garapan sutradara Rik A. Sakri.

Foto Dok. Pribadi Necky Effendi 70_87 | Dok. Pribadi Ipung Sidharta 70_82 | Dok. ISTIMEWA