Catatan Anak 70_05, Buat Ibundanya 70_83

#HariIbu2020 #IbuadalahEmpu #Ibu70_83 #Ibu70_05

Catatan Bagian #1

Jangan Pernah Berhenti Mencintai Ibu Kita

Oleh ANS 70_05

TAK mudah memang jika kita membicarakan sosok yang satu ini. Ibu. Punya banyak arti. Punya banyak “makna dalam”. Punya banyak kesan. Punya berbagai macam hal. Bahkan semua aspek kehidupan kita, hampir pasti berhubungan dengan sosoknya.

Kita semua adalah seorang anak yang lahir dari rahim seorang Ibu. Yang setiap langkah kakinya di dunia ini, selalu disertai do’a dari seorang Ibu. Sampai kapan pun.

Ibu. Sosok yang bagi saya adalah segalanya. Tak akan ada “saya” menulis artikel ini, jika tak ada figure Ibu yang selalu mendorong, mendukung dan mendo’akan “saya”, yang “tak ada apa-apanya” ini. Mari kita mulai merenungi makna “Ibu” dengan sebuah pertanyaan sederhana:

Ibunda Alumnus 70_83

Kenapa harus ada Hari IBU?

Jika ada yang bertanya seperti itu, kembalikan saja pertanyaannya menjadi: ”Kenapa harus tidak ada Hari Ibu?”

Menurut penulis, ya jelas harus ada! Sudah seharusnya, “secara momentum hari besar negara”, sosok Ibu punya “satu hari khusus” untuk diingat. Diingat bagaimana perjuangannya? Diingat bagaimana pengorbanannya? Diingat bagaimana jatuh bangunnya. Lalu kembali bangkit menjadi sosok Ibu untuk anak-anak, dan bahkan suaminya.

Toh hanya “satu hari” saja, dari “365 hari” yang ada. Hari-hari dimana Ibu tak kenal lelah “bekerja 24 jam” untuk keluarganya. Bahkan sering kali, ia lupa untuk mengurus dirinya sendiri. Seolah ia dihadirkan di dunia ini, memang untuk orang lain, bukan semata buat dirinya sendiri.

Pertama, mari kita peringati Hari Ibu kali ini bersama-sama, dengan spirit dan semangat yang sama. Kasih sayang yang sama. Spirit dan kasih sayang untuk “jangan pernah berhenti mencintainya”. Untuk Ibu kita. Dimanapun ia berada. Dimanapun. No Debat!

Hari Ibu diputuskan jatuh pada 22 Desember, melalui ketetapan Kongres Perempuan III 1938 di Bandung, Jawa Barat.

Lahirnya “Hari Ibu”

Kedua, di Indonesia Hari Ibu diperingati pada setiap 22 Desember. Tetapi tahukah kita, bahwa setiap negara ternyata memiliki momen tanggal tersendiri untuk memperingatinya? Sebut saja negara Polandia, memperingai Hari Ibu pada 26 Mei; India pada hari Minggu kedua di bulan Mei; Malawi pada 15 Oktober; Qatar, 21 Maret; dan Thailand, 12 Agustus.(*)

Telah diyakini, perayaan Hari Ibu modern pertama kali dimulai di Amerika Serikat. Ketika seorang wanita bernama Anna Jarvis,yang menginginkan sebuah momen perayaan khusus bagi kaum Ibu di negaranya. Karena ibundanya sendiri, telah menyatakan keinginannya.

Ketika ibunya meninggal, Jarvis mengambil inisiatif dan mengadakan memorial untuk ibunya pada 1908 –tiga tahun setelah hari wafatnya. Momen itu dilakukan di Gereja Methodist St Andrew, Virginia Barat.

Usaha Jarvis mempromosikan Hari Ibu ini membuahkan hasil. Ketika pada 1914, Woodrow Wilson, Presiden Amerika kala itu, menetapkan Hari Ibu sebagai hari libur resmi nasional.(**)

Di Indonesia sendiri, penetapan 22 Desember sebagai peringatan Hari Ibu dimulai sejak 1938. Saat itu, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia III pada 22-27 Juli 1938 di Bandung. Salah satu keputusannya menetapkan Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Pemilihan 22 Desember karena bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928.

Ketiga, yang mungkin banyak dipertanyakan sebagian orang –namun lagi-lagi sebagian orang itu juga pasti sudah tau jawabannya; Apa kelebihan sosok Ibu dibanding dengan sosok Ayah?

Sejatinya kedua sosok tersebut, bukanlah sesuatu yang dapat dibandingkan. Bukan suatu hal yang dapat “dipilih”; Lebih hebat mana? Lebih sayang siapa? Lebih baik mana?

Karena sudah jelas, dari awal, kedua sosok tersebut bertemu, bersatu, dan menghasilkan kita sebagai anaknya. Mereka sudah harus bekerja sama satu sama lain, dengan berbagai macam kelebihan, sekaligus kekurangannya masing-masing, yang menempel pada diri dan predikat Ayah & Ibu.

***

Koneksi Ibu Dua Generasi: 70’83 dan 70’05

MARI kita fokus untuk memperingati Hari Ibu. Kita ungkap dan bahas, seberapa “lebih” —bukan lebay ya…— sosok seorang Ibu di dunia ini.

Ibu adalah “Empu”. Kata ini dinukil dari kata dasar figur Ibu, yang ia adalah seorang manusia berjenis kelamin “per-empu-an”.

Banyak makna dan persepsi tentang kata ini. Dan bagi saya, kata memiliki makna sebagai sang “empu-nya”, yang bermakna “pemilik” atau “yang memiliki”.

Memiliki apa? Memiliki “segalanya”. Jika ada survei “siapakah orang terkaya” di muka bumi ini? Maka jawabannya, pasti sosok “Ibu”-lah orangnya. Apa pasal?! Bayangkan, betapa kaya rayanya ia… Bahkan “Surga pun, ada di bawah telapak kaki seorang Ibu…!”

Sementara, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “I-bu” adalah “orang” berjenis kelamin “perempuan” yang telah melahirkan “seseorang”. Atau sebuah sebutan untuk wanita yang sudah bersuami. Juga sebuah sapaan takzim (terhormat) kepada wanita, baik yang sudah bersuami maupun yang belum.

Anak dan Ibu: Dua Generasi Alumnus 70: 70’05 dan 70’83

Sosok ibu adalah “pusat hidup” rumah tangga. Bahkan ia “pemimpin” dalam terciptanya sebuah kebahagiaan anggota keluarga. Sosok ibu bertanggung jawab menjaga dan memperhatikan kebutuhan anak. Mengelola kehidupan rumah tangga. Memikirkan keadaan ekonomi dan kebutuhan makan anak-anaknya. Memberi teladan akhlak dan budi pekerti. Serta mencurahkan seluruh kasih sayang, bagi kebahagiaan sang anak, serta seluruh anggota keluarga. (***)

Tentu masih banyak sekali kelebihan sosok ibu. Yang tak ada seorang pun dapat menandinginya, kecuali dirinya sendiri.

Ibu adalah sosok “segala bisa”, “sagala aya” (bahasa Sunda). Baik secara alamiah, maupun dalam kondisi “terpaksa” dan “dipaksa”. Karena bagaimana pun, jika sudah mempunya label “Ibu” di depan namanya, otomatis sudah dan akan menjadi sosok “segalanya”, terutama untuk anak-anaknya.

Mengapa tidak ada yang bisa bertanding dengannya?

Mari kita berfikir sejenak. Siapa kira-kira orang yang kuat dan mampu, membawa, menggendong, sekaligus membersamai “mahluk lain”, minimal selama 9 bulan 10 hari penuh? Sosok itu menempel pada seorang diri, full 24 jam, tanpa istirahat!

Bahkan untuk beberapa kasuistik tertentu, seorang ibu mampu menanggung lebih dari “satu nyawa” dalam tubuhnya, selain nyawanya sendiri. Bila ia sedang mengandung sepasang anak kembar, misalnya.

Bayangkan, bagaimana jika si Ibu harus menanggung “banyak nyawa” dari beberapa janin kembar di dalam rahimnya. Betapa miris hati kita, jika mendengar kabar tentang seorang ibu yang mampu melahirkan anak kembar sampai 8 bayi –bahkan bisa lebih–, misalnya?

Siapa yang bisa menanggung rasa sakitnya? Jika bukan seorang perempuan yang disebut Ibu?

Kasiih Ibu tak pernah putus buat buah hatinya.

“Badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del. Tetapi selama bersalin ibu akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.”

Maasyaa Allah…

Lalu setelahnya, siapa yang juga bisa menghasilkan sumber makanan dari air susunya, untuk anak-anak yang dilahirkannya? Untuk paling tidak, di masa enam bulan pertama masa hidupnya, jika bukan seorang Ibu?

Seorang Ibu yang sangat dimuliakan TUHAN. Seorang Ibu yang sangat dipercaya TUHAN untuk menanggung segala hal di atas. Seorang Ibu yang do’anya akan langsung dikabulkan, jika sedikit saja hatinya tergores.

Ada sebuah ungkapan spiritual: “Tangis air mata taubatmu, mampu menyelamatkanmu ke dalam SurgaNYA. Namun setetes air mata Ibu karena ucapan dan perilakumu, mampu menenggelamkanmu di NerakaNYA.

Naudzubillahi minzhalik

*** 

Ini baru “IKAMUMNI 70” yang sesungguhnya: Ikatan “Satu” Keluarga Besar “Semua” Alumni SMA 70: Nenek Alumni Ex SMA 11 (70_82); Ibu Alumni SMA 70_83; Tante Alumni SMA 70_87; Anak Alumni SNA 70_05;.

Sungguh tak akan pernah cukup dan selesai jika kita bahas “semua” kelebihan sosok Ibu. Baru membahas lima menit pertama kehidupan seorang anak di dunia, jasa seorang Ibu, sudah terasa seberat itu beban dan tangungjawabnya.

Tak akan pernah cukup umur seorang anak untuk “membalas”, apalagi hanya sekadar “membahas” jasa-jasa Ibundanya. Sampai mati pun, sosok “Ibu”, sosok “Empu” itu, tak akan pernah bisa kita lupakan segala jasanya, segala do’anya, perjuangannya dan pengorbanannya. TAK AKAN!

Disinilah, saya mengibaratkan bahwa “Sosok Ibu adalah Signal Koneksi Kita Seumur Hidup, Sampai Mati”. Karena memang, sosok Ibu tak akan pernah putus “koneksinya” untuk anak-anaknya. Ibarat signal provider, jika ada paket sebesar 50GB sekalipun, akan kalah kuatnya dengan “koneksi signal kasih sayang” seorang Ibu. Yang koneksinya langsung menuju langit, menuju “pemilik segala Pemilik”.

Karenanya, sampai mati pun. Sampai hilang raganya di dunia. Bahkan sampai sang anak pun tiada. Sosok Ibu akan terus dapat dikenang oleh anak keturunannya.

***

Selamat Hari Ibu

“Sosok Ibu adalah Signal Koneksi Kita Seumur Hidup, Sampai Mati”

Untuk semua Ibu di dunia

Khususnya di Indonesia

Ter-spesial Ibu dalam keluarga besarku

Yang Tersayang

Yang Tercinta

Ibu-ku…

Selamat Hari Ibu…

Untuk semua Ibu yang lahir di generasi ini

Untuk Ibu yang mempunyai tugas baru di masa pandemik ini

Untuk semua Ibu yang perjuangannya selalu ada untuk keluarga

Selamat Hari Ibu,

Untuk semua Ibu, para pembaca…

Terima Kasih Ibu.

***

Editor Gusjaw Soelarto 70_87

Penulis Amira Naya Sakinah 70_05, memiliki Ibu alumnus 70_83. Juga Nenek, Om, Tante, Kakak, serta Sepupu alumnus 70 lintas angkatan. Dari alumnus SMA 11 sampai “bermetamorfosa” menjadi SMA 70.

Sumber:

*Kompas.com “Hari Ibu Sedunia 2020: Tanggal, Sejarah dan Maknanya”

**Kompas.com “Hari Ibu di Indonesia 22 Desember”

*** http://belajarpendidikanpkn.blogspot.com/2017/07/pengertian-ibu-wanita.html