“Ini Maya Nganggap Yak?”
Oleh Gusjaw Soelarto
Ol nangaj ukang kana hujut hulup nangulub, olak agak asib asahab dikilab-kilab.
(Lo jangan ngaku anak tujuh puluh bulungan, kalo kaga bisa bahasa dibalik-balik)

KLAIM “asahab dikilab-kilab” (bahasa dibalik-balik) sebagai bahasa identitas “anak 70 Bulungan”, memang hanya boleh diakui oleh generasi alumnus di angkatan 70_1986, hingga generasi 70_2000an.
Pasalnya, dari beberapa keterangan langsung dari “generasi angkatan awal” Anak 70 ini, menyatakan “Anak Military 70_86”-lah sebagai pencetus “asahab dikilab-kilab”. Merekalah yang mulai mempopulerkannya di almamater SMA 70 Bulungan.
“Kami Military 70_86 yang memulainya. Sejak di kelas 2 (1985-1986, red),” jelas Nurjatmiko Adham di FB Grup Alumni SMA 70 Jakarta . Ketika tim redaksi alumnisma70.com mengkonfirmasi kepastian, siapa sesungguhnya pencetus dan kapan “asahab dikilab-kilab” ini mulai dipopulerkan?
Pendapat ini pun dibenarkan sejumlah “Anak Military” lainnya. Antara lain, Mora Diapari Lubis (Arom 70_86), Tri Haryadi (Archo_7086), Fietmon Simanjuntak (Omen_7086), yang berhasil dihubungi alumnisma70.com melalui Whatsapp (WA) pribadinya.
“Ya benar. Military yang memulainya,” tegas Arom 70_86. Salah satu sosok “paling garang” semasa Military masih eksis pada 1986, yang kini bernampilan khas dengan jenggot panjangnya.
Keterangan ini pun dipertegas pernyataan Edi P. Siagian 70_84. Yang pasti, “Bukan jaman gw. Jaman gw masih normal,” komennya menanggapi penjelasan Miko 70_86 di FBG Alumni SMA 70 Jakarta.
Mama Haris, alumni 70 “senior” lainnya memperjelas. Bahwa di masa angkatan 70_82 dan 70_83, bahasa gaul yang berkembang sebagai bahasa identitas saat itu, bukan “asahab dikilab-kilab”. Melainkan menggunakan bahasa berakhiran “Aididen”.
“Contohnya, dipri ipri aididen. Artinya: Dia. Taididen taididen, artinya: Tata. Biprines Taididen nges, artinya: Bintang. Tupru Tipri, artinya: Tuti,” jelas Mama Haris.

Penggunakaan “asahab dikilab-kilab” yang dipelopori sejak angkatan 70_86 ini, ternyata cukup meng-ifluence atau mewabah sebagai “bahasa gaul Anak 70”. Yang selepas angkatan Military 70_86 lulus, kemudian diadopsi oleh angkatan GAB 70_87. Bahkan kemudian, juga “diwariskan” ke generasi “yunior” hingga angkatan 70_90an dan 70_2000an.
Masih digunakannya “asahab dikilab-kilab” sebagai bahasa komunikasi keseharian di kalangan lintas angkatan anak 70 Bulungan, dibenarkan Amrullah Legiun 70_93 dan Amira Naya Sakinah 70_05.
“Secara umum ngga begitu banyak yang gunakan. Tapi masih ada yang kadang pake ahasab kilab,” papar Amru 70_93, yang kini jadi pengurus Kalem70 (Kajian Legiun Muslim 70) dan Tim Khidmat Ghirah70 Lintas Angkatan.
Hal senada diungkapkan Naya 70_05. “Pas angkatan aku sekolah semuanya pake (bahasa dibalik-balik, red) kok. Nggak hanya anak tongkrongan aja,” tuturnya via WA prinadi.
Menurutnya, anak 70 di angkatan sebelum dan setelahnya pun, masih menggunakan “ahasab dikilab-kilab”. “Yang setahun di atas dan di bawah aku, kayaknya masih pake juga deh asahab dikilab,” uangkap Naya 70_05, yang kini juga aktif mengelola sejumlah media sosial Reuni Akbar 40 Tahun SMA 70 Bulungan.
***

PENGALAMAN pribadi penulis di angkatan GAB 70_87 pun, mencatat penggunaan “asahab dikilab-kilab” semakin meluas. Bahkan penggunaannya sebagai bahasa identitas itu, keluar dari komunitas “anak tongkrongan GAB”, ke komunitas kana kowoc & kewec “kiab-kiab” (anak cowok & cewek “baik-baik”). Yang juga ikut-ikutan menggunakan bahasa gaul ini.
Ada cerita ucul. Di acara perpisahan Kelas 2 Biologi 7 yang sedang berlangsung di Villa Polisi Ciloto, Puncak, Bogor, akhir tahun 1986. Seorang “anak pengajian” di kelas ini –bernama Zainal–, tiba-tiba berbicara dengan “asahab dikilab-kilab”, yang tak pernah diucapkan sebelumnya.
Di malam terakhir cara perpisahan. Sambil menunjuk ke arah ayam bakar yang sedang dipanggang di api unggun, ia spontan berkata: “Ini maya nganggap yak?”.
Tentu saja, perkataannya itu membuat semua teman sekelasnya, termasuk penulis, terkejut. Dan kami pun agak bingung untuk “menterjemahkan” secara cepat kalimat yang diucapkannya itu. Maklum “anak pengajian” yang shaleh dan alim ini, sebelumnya tak penah “teracuni” dengan bahasa identitas anak 70 itu.
Wkwkwkwkwkwk…! Akhirnya, tawa pun pecah di malam perpisahan itu. Setelah kami merenung sejenak, dan akhirnya faham. Bahwa yang dimaksud Zainal, “anak betawi” yang fasih dan merdu saat mengaji ini, hanya ingin bertanya: “Ini ayam panggang yak?”.
Oalah… Dul… dul…!
***
Gusjaw Soelarto | Ghirah 70_87
Jurnalis Harian Umum Media Indonesia (1989-1997) | Redaktur Artistik Tabloid C&R dan Tabloid Buletin Sinetron (1999-2001) | Produser program “MK Files” di Makamah Konstitusi (MK) TV (tayang 53 Eps. di TV One, 2011-2012).
