Guru Itu…

  • by

Curhatan Seorang Guru

Oleh Gee

Guru-guru SMAN 70 Bulungan | Jasa & keikhlasanmu akan selalu kami kenang

SERINGKALI berperan ganda. Seringnya kami menjadi ahli Science, Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, I.T. dan ahli di bidang studi lainnya.

Ada kalanya kami seorang ilmuwan, hakim atau koki.

Kala lainnya kami bisa jadi seorang wartawan, penari, photographer, koreographer, pelukis, seniman.

Terkadang kami tiba-tiba harus menjadi “nanny”,  perawat atau dokter.

Kadang-kadang kami harus bisa menjadi penyanyi, pemain musik, pengarah musik, producer, penulis skenario, sutradara, aktor atau aktris.

Kami juga menjadi orangtua anak didik kami, saat mereka berada di sekolah.

Kami senang, apapun semua kami lakukan untuk anak – anak didik kami… walaupun harus menjalani berbagai peran.

Alhamdulillah…

Inilah Kami, Ibu, dan Bapak Guru….

Ibu Bapak Guru yang memiliki amanat besar. Untuk membentuk karakter yang kuat bagi generasi penerus bangsa. Mungkin bisa dibandingkan dengan amanat dan tanggung jawab seorang Presiden atau Dokter… Tanggungjawab yang bukan hanya ada di dunia, tetapi juga sampai ke akhirat.

Antara guru dan dokter pun, memiliki beberapa persamaan. Guru dan dokter sama-sama sebuah profesi, yang dituntut untuk menjadi seorang yang profesional di bidangnya. Keduanya sama-sama memiliki tugas untuk menyelamatkan manusia. Guru menyelamatkan generasi penerus dengan mendidik, membimbing dan memberikan akhlak yang baik untuk anak didiknya. Sementara seorang dokter memiliki tugas menyelamatkan dan menyembuhkan penyakit seseorang.

Guru dalam bahasa Sansekerta berarti “berat”. Yang merujuk sebagai seorang pengajar suatu ilmu. Mungkin arti berat bisa didefinisikan karena tugasnya yang berat.

Dokter diambil dari bahasa latin yang artinya “guru”. Yang memang untuk menjadi seorang dokter diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dari seorang guru yang ahli di bidang ilmu kedokteran.

Guru dan dokter umum sama-sama memiliki sumpah profesi. Walaupun pada kenyataannya sumpah profesi guru ini tidak menjadi suatu hal yang wajib diucapkan pada saat menjadi guru.

Dari beberapa kesamaan kedua profesi itu mungkin yang bisa dikatakan perbedaannya adalah dari seragam mereka.

Semua orang tahu bahwa dokter selalu berpakaian putih. Sementara guru beraneka ragam seragamnya. Atau bahkan seorang guru hanya berpakaian itu-itu saja alias hanya memakai satu pakaian untuk beberapa hari. Karena daerah tempatnya bertugas sebagai guru, sangat kering dan tandus, yang tidak memungkinkan untuk mencuci baju.

Perbedaan lainnya adalah, dilihat dari tingkat kesejahteraan keduanya yang bagaikan bumi dan langit.

Seseorang yang menjadi dokter secara langsung kehidupan dan kesejahteraannya meningkat. Minimal dari seorang dokter yang baru, bisa memiliki mobil atau rumah.

Sementara guru, terutama guru daerah, pendapatannya sangat minim. Bahkan lebih kecil dibandingkan buruh.

Bisa jadi perbedaan ini karena untuk menjadi seorang dokter diperlukan biaya yang besar. Kuliah yang mahal dan PPT (kerja ikatan dinas selama 2 tahun) yang cukup sulit. Alhasil setelah mereka menjadi dokter, mereka akan dibayar mahal. Sementara untuk menjadi guru tidak memerlukan biaya yang besar saat kuliah. Dan ikatan dinas atau pelatihan dan pendidikan selama dua tahun, baru akan dipertimbangkan tahun depan.

Seorang dokter, jika melakukan malpraktek akan mendapat sangsi hukum dan bisa di copot ijin prakteknya. Dan terkadang mereka masih bisa bekerja sebagai dokter di rumah sakit umum.

Sementara seorang guru, jika melakukan kesalahan dalam mengajar dan mendidik murid atau melanggar norma-norma, otomatis guru tersebut tidak akan menjadi guru lagi. Mereka akan mendapat hinaan dan celaan  masyarakat di sepanjang hidup mereka. Karena mereka tidak pantas dianggap sebagai contoh teladan yang mendidik.

Kedua profesi itu memiliki tugas yang mulia. Keduanya merupakan profesi yang sangat penting bagi manusia dan generasi penerus bangsa.

Semoga kami para guru akan lebih banyak menciptakan presiden, menteri, dokter, pengacara, ataupun orang-orang hebat dan berguna bagi bangsa….

Inilah kami, ibu dan bapak guru…

#Catatan Seorang Guru

Guru matematikaku bilang, “Jangan sedih jika suatu saat dianggap seperti perkalian angka nol. Dikalikan dengan berapapun… hasilnya tetap ‘0’”

Guru ngajiku bilang,”Jangan gundah jika suatu hari seperti ‘nun’ mati dalam idgham bilagunnah. Ada… tetapi tak dianggap.”

Guru Bahasa Indonesiaku bilang, “Jangan risau jika nanti layaknya huruk ‘K’ pada kata Kakek atau Nenek. Terlihat…tapi tidak disebutkan”

Guru-guruku bilang, “Jangan cemas dengan penilaian orang lain… mereka menganggap dirinya sempurna menurut penilaian mereka.

Gielda Lafita

Penulis novel “Baby Proposal & After Office Hours”.